Ketegangan di Selat Hormuz kembali mengguncang pasar energi global setelah Iran menutup jalur itu menyusul blokade berkelanjutan oleh Amerika Serikat. Penutupan tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia dan menghentikan total aktivitas pelayaran di salah satu rute pengiriman energi paling penting di dunia.
Pergerakan harga langsung terasa di pasar komoditas. Data dari Indopremier menunjukkan harga minyak Brent naik 6,8 persen, sedangkan WTI menguat 5,6 persen setelah militer Amerika Serikat menahan satu kapal berbendera Iran dan Teheran merespons dengan menutup akses logistik di perairan tersebut.
Selat Hormuz lumpuh setelah insiden penembakan kapal
Gangguan di jalur sempit itu semakin memburuk setelah sebuah kapal berbendera India ditembaki saat mencoba melintas. Insiden tersebut membuat kapal-kapal lain memilih memutar balik, sehingga aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan lumpuh total sejak kemarin.
Situasi ini mempertegas posisi Selat Hormuz sebagai titik rawan dalam rantai pasok energi global. Begitu jalur itu terganggu, pasar langsung menghitung ulang risiko pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Pasar keuangan ikut tertekan
Dampak konflik tidak berhenti di pasar energi. S&P 500 Futures tercatat turun 0,8 persen, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap memburuknya stabilitas kawasan dan potensi gangguan lebih luas pada perdagangan global.
Reaksi negatif pasar menunjukkan bahwa eskalasi geopolitik di Timur Tengah kini dipandang sebagai ancaman nyata bagi aset berisiko. Kenaikan harga minyak yang cepat juga menambah tekanan pada sentimen pelaku pasar di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.
IMF revisi outlook ekonomi dan inflasi
Lembaga Dana Moneter Internasional atau IMF turut menyesuaikan proyeksi akibat gejolak harga energi. IMF memangkas prospek pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen dari perkiraan sebelumnya 3,3 persen pada Januari lalu.
Pada saat yang sama, IMF menaikkan estimasi inflasi global tahun 2026 menjadi 4,4 persen. Revisi ini mencerminkan kekhawatiran bahwa lonjakan biaya energi dari konflik akan merambat ke harga-harga lain dan menekan pemulihan ekonomi dunia.
Tekanan juga terasa di pasar domestik
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG tercatat melemah 12 persen sejak awal tahun. Pelemahan ini dipicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan penurunan kelas oleh MSCI serta ancaman pembengkakan defisit fiskal akibat meningkatnya beban subsidi bahan bakar minyak.
Kondisi tersebut membuat arah pasar domestik ikut sensitif terhadap perkembangan konflik Timur Tengah. Ketika harga minyak global naik, tekanan terhadap anggaran dan kestabilan pasar keuangan dalam negeri biasanya ikut meningkat.
Diplomasi masih dibuka
Di tengah eskalasi, upaya diplomasi disebut masih akan dilanjutkan. Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dijadwalkan mengunjungi Pakistan pada Selasa (21/4/2026) untuk perundingan damai lanjutan.
Namun hingga kini, pihak Iran belum memberikan konfirmasi mengenai kehadiran negosiator mereka. Selama belum ada kesepakatan yang jelas, Selat Hormuz tetap menjadi titik paling sensitif yang menentukan arah harga minyak global dan sentimen pasar internasional.







