Harga LPG Nonsubsidi Naik, Ancaman Konsumen Beralih ke Elpiji 3 Kg Makin Nyata

Kenaikan harga LPG nonsubsidi dinilai dapat mendorong pergeseran konsumsi ke LPG 3 kg yang disubsidi pemerintah. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran kuota subsidi yang sudah ditetapkan bisa terlampaui jika selisih harga antara produk subsidi dan nonsubsidi terus melebar.

Pengamat energi Abra Talattov menyebut penyesuaian harga energi, termasuk LPG dan BBM nonsubsidi, berkaitan erat dengan dinamika harga minyak mentah dunia. Ia menilai koreksi harga pada produk nonsubsidi sulit dihindari ketika harga minyak global bergerak naik atau berubah signifikan.

Risiko perpindahan konsumsi ke LPG subsidi

Abra menyoroti bahwa kenaikan harga LPG nonsubsidi berpotensi membuat sebagian konsumen beralih ke LPG subsidi. Ia menilai disparitas harga yang makin lebar akan mendorong konsumen mencari pilihan yang lebih murah di tengah tekanan biaya hidup.

“Ketika harga LPG nonsubsidi naik, tentu ada potensi peralihan dari konsumen non-subsidi ke subsidi,” ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa perubahan perilaku konsumsi bisa terjadi bukan hanya karena kebutuhan, tetapi juga karena pertimbangan harga.

Distribusi LPG subsidi dinilai masih perlu dibenahi

Menurut Abra, pemerintah perlu mengantisipasi risiko tersebut dengan memperbaiki sistem distribusi LPG subsidi agar lebih tepat sasaran. Ia menilai penyaluran subsidi masih terbuka dan belum sepenuhnya terkontrol, sehingga ruang perpindahan konsumsi masih cukup besar.

“Pemerintah perlu mempercepat penyaluran subsidi agar lebih targeted. Selama ini distribusinya masih terbuka,” kata Abra. Dalam konteks ini, ketepatan penyaluran menjadi penting agar LPG subsidi benar-benar diterima kelompok yang berhak.

Ancaman kuota terlampaui

Abra mengingatkan bahwa LPG bersubsidi memiliki batas kuota sekitar 8,3 juta metrik ton. Jika terjadi pergeseran konsumsi dari LPG nonsubsidi ke LPG subsidi, risiko kuota tersebut terlampaui akan semakin besar.

Ia menjelaskan bahwa dampaknya tidak berhenti pada sisi distribusi, tetapi juga bisa menambah beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN. “Over kuota berarti pemerintah harus menanggung tambahan subsidi dan kompensasi energi yang lebih besar,” tegasnya.

Tekanan harga membuat konsumen makin sensitif

Abra memperkirakan potensi migrasi konsumen ke LPG subsidi bisa berada di kisaran 5 hingga 10 persen. Perkiraan itu didasarkan pada kondisi masyarakat yang semakin sensitif terhadap kenaikan harga energi, terutama ketika inflasi kebutuhan pokok masih menekan daya beli.

Di tengah situasi tersebut, setiap kenaikan harga pada produk nonsubsidi berisiko mempercepat perubahan pola konsumsi rumah tangga maupun usaha kecil. Jika disparitas harga terus melebar, tekanan terhadap LPG 3 kg juga bisa ikut meningkat dan membuat pemerintah perlu lebih waspada terhadap stabilitas pasokan subsidi.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button