PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pengelola KFC Indonesia, masih membukukan rugi bersih pada 2025 meski tekanannya mulai menyusut. Berdasarkan Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia, rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 366,04 miliar.
Angka itu lebih kecil dibandingkan rugi tahun sebelumnya yang sebesar Rp 796,71 miliar. Di saat yang sama, perusahaan juga menutup 25 gerai sehingga total gerai KFC Indonesia turun menjadi 690 unit pada akhir 2025.
Kinerja keuangan membaik, tetapi belum kembali untung
Dari sisi pendapatan, KFC Indonesia mencatatkan Rp 4,88 triliun sepanjang 2025. Nilai ini naik tipis dari Rp 4,87 triliun pada periode sebelumnya, sehingga menunjukkan penjualan relatif stabil meski perusahaan masih merugi.
Perusahaan juga berhasil menekan beban pokok penjualan menjadi Rp 1,99 triliun. Pada tahun sebelumnya, beban pokok pendapatan masih berada di level Rp 2,03 triliun, sehingga efisiensi operasional terlihat mulai berjalan.
Meski begitu, perbaikan itu belum cukup untuk mengangkat laba bersih ke zona positif. Laporan keuangan tetap menunjukkan bahwa tantangan pemulihan bisnis restoran cepat saji ini masih berlanjut.
Gerai berkurang, karyawan ikut menyusut
Penyesuaian usaha terlihat jelas dari jumlah jaringan restoran yang dikelola. Hingga akhir 2025, FAST mengoperasikan 690 gerai KFC, turun dari 715 gerai pada akhir 2024.
Penyusutan gerai ini berjalan seiring dengan pengurangan tenaga kerja di dalam grup perseroan. Pada 31 Desember 2025, jumlah karyawan tercatat 11.664 orang, lebih rendah dibandingkan 13.106 karyawan pada akhir 2024.
Langkah seperti ini biasanya mencerminkan upaya efisiensi yang lebih ketat. Dalam kasus KFC Indonesia, penutupan gerai dan penurunan jumlah karyawan menunjukkan perusahaan sedang menyesuaikan struktur biaya dengan kondisi bisnis yang masih menantang.
Posisi aset dan kewajiban tetap perlu dicermati
Dari sisi neraca, total aset KFC Indonesia tercatat Rp 4,94 triliun hingga akhir Desember 2025. Sementara itu, liabilitas perusahaan berada di angka Rp 4,51 triliun dengan ekuitas sebesar Rp 435,85 miliar.
Komposisi ini menunjukkan ruang keuangan perusahaan masih terbatas untuk menopang pemulihan besar dalam waktu singkat. Dengan ekuitas yang relatif kecil dibandingkan total aset dan liabilitas, beban perbaikan kinerja masih menjadi perhatian pasar.
Efisiensi jadi kunci, tapi tekanan bisnis belum hilang
Kombinasi pendapatan yang nyaris datar, beban yang lebih ringan, dan rugi yang mengecil memperlihatkan adanya perbaikan operasional. Namun, penutupan gerai dan penyusutan tenaga kerja juga menegaskan bahwa proses penyehatan usaha masih berlangsung.
Data 2025 menunjukkan KFC Indonesia belum keluar dari fase penyesuaian bisnis. Selama penjualan belum tumbuh lebih kuat dan efisiensi belum cukup mengimbangi tekanan operasional, kinerja perseroan kemungkinan masih akan sangat bergantung pada pengendalian biaya dan efektivitas jaringan gerai yang tersisa.







