BRPT Melonjak 7,48 Persen Saat IHSG Melemah, Jadi Penahan Utama Kejatuhan Pasar

Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) bergerak mencolok di tengah pelemahan pasar saham domestik. Pada perdagangan Selasa (21/4/2026), harga BRPT naik 7,48 persen ke level Rp2.300 per saham saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru tertekan sepanjang sesi.

Kenaikan ini menjadi salah satu penopang utama indeks yang sempat terkoreksi lebih dari 1 persen pada perdagangan intraday. Meski IHSG akhirnya ditutup turun 0,46 persen di posisi 7.559, lonjakan BRPT membantu menahan pelemahan yang lebih dalam.

Perdagangan BRPT berlangsung sangat aktif

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan BRPT dibuka di Rp2.150 dan sempat menyentuh level tertinggi Rp2.380 pada hari yang sama. Saham milik konglomerat Prajogo Pangestu itu juga mencatat volume transaksi besar, mencapai 381 juta saham dengan nilai perdagangan menembus Rp870 miliar.

Aktivitas tersebut menempatkan BRPT di posisi kedua teratas dalam daftar turnover perdagangan harian. Situasi ini menandakan minat pasar yang kuat pada saham tersebut, meski kondisi IHSG saat itu masih diliputi tekanan.

BRPT jadi penahan utama penurunan indeks

Kontribusi BRPT terhadap indeks tercatat sebesar 9,04 poin, tertinggi di antara saham-saham yang menopang IHSG pada hari itu. Pergerakan naik BRPT ikut meredam tekanan pasar yang sempat membawa indeks ke titik terendah 7.511,82.

Selain BRPT, sejumlah emiten lain juga memberi sumbangan positif pada pergerakan indeks. Di antaranya Merdeka Gold Resources (EMAS), Bank Mandiri (BMRI), GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), Pacific Strategic Financial (APIC), Chandra Asri Pacific (TPIA), Pantai Indah Kapuk Dua (PANI), Amman Mineral Internasional (AMMN), Bakrie and Brothers (BNBR), dan Bank Central Asia (BBCA).

Berikut saham-saham yang paling besar menopang IHSG pada perdagangan tersebut:

  1. Barito Pacific (BRPT) — 9,04 poin
  2. Merdeka Gold Resources (EMAS) — 6,73 poin
  3. Bank Mandiri (BMRI) — 6,28 poin
  4. GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) — 5,92 poin
  5. Pacific Strategic Financial (APIC) — 4,99 poin

Tekanan datang dari beberapa emiten berkapitalisasi besar

Meski ada saham yang menguat, rebound IHSG tetap terbatas karena tekanan pada sejumlah saham besar. Data pasar menunjukkan koreksi tajam pada emiten di sektor teknologi, perbankan, dan telekomunikasi menjadi salah satu faktor yang menahan penguatan indeks.

Dian Swastatika Sentosa (DSSAA) tercatat menjadi saham dengan pengurang poin terbesar terhadap IHSG, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Barito Renewables Energy (BREN). Telkom Indonesia (TLKM) dan Mora Telematika Indonesia (MORA) juga masuk daftar saham yang menekan laju indeks.

Lima saham yang paling membebani rebound IHSG adalah DSSAA sebesar 43,41 poin, BBRI sebesar 26,78 poin, BREN sebesar 23,16 poin, TLKM sebesar 9,43 poin, dan MORA sebesar 7,2 poin. Tekanan dari saham-saham tersebut membuat IHSG tetap bertahan di zona merah meski jumlah saham yang naik lebih banyak dibanding yang turun.

Pasar tetap aktif meski indeks terkoreksi

Secara keseluruhan, Bursa Efek Indonesia mencatat IHSG bergerak di rentang 7.511 hingga 7.568 pada sesi perdagangan hari itu. Nilai transaksi pasar juga terpantau tinggi, mencapai Rp18 triliun dengan frekuensi 2,7 juta kali perdagangan.

Jumlah saham yang menguat tercatat 386 saham, lebih banyak dibanding 264 saham yang terkoreksi, sementara 168 saham tidak berubah harga. Volume perdagangan harian IHSG sendiri mencapai 43,54 miliar saham, menunjukkan aktivitas pasar tetap kuat meski arah indeks masih tertekan.

Di tengah kondisi tersebut, BRPT tampil sebagai salah satu saham paling dominan dan menjadi penahan utama agar pelemahan IHSG tidak semakin dalam. Pergerakan saham ini juga menunjukkan bahwa di saat indeks melemah, aksi beli pada emiten tertentu masih mampu menciptakan pengaruh besar terhadap arah pasar.

Exit mobile version