Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tipis dan berakhir di level 7.541 pada penutupan perdagangan Rabu (22/4/2026). Tekanan pasar muncul setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen.
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak dalam area merah dengan rentang pergerakan antara 7.578 hingga 7.513. Aktivitas transaksi tetap ramai, dengan nilai perdagangan mencapai Rp18,14 triliun dari 49,44 miliar saham yang berpindah tangan dalam 2,94 juta kali frekuensi transaksi.
Tekanan dari sektor dan saham tertentu
Pelemahan indeks terutama datang dari sektor barang baku, energi, dan properti. Ketiga sektor itu masing-masing turun 0,68 persen, 0,16 persen, dan 0,02 persen, sehingga menahan peluang IHSG untuk bergerak lebih kuat.
Di jajaran saham, beberapa emiten besar ikut memberi tekanan. PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) terkoreksi 9,81 persen, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 9,71 persen, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melemah 9,62 persen.
Meski indeks melemah, pasar masih mencatat 440 saham menguat. Di sisi lain, 240 saham turun dan 141 saham bergerak stagnan, menunjukkan pergerakan yang masih cukup selektif di tengah sentimen yang hati-hati.
Keputusan BI di tengah tekanan global
BI menahan suku bunga Deposit Facility di 3,75 persen dan Lending Facility di 5,5 persen. Keputusan itu diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih dipengaruhi konflik di Timur Tengah.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bank sentral siap memperkuat kebijakan bila diperlukan. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan memastikan inflasi 2026 serta 2027 tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai penahanan suku bunga juga ditujukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Ia memperkirakan BI belum akan mengubah level suku bunga dalam waktu dekat selama kondisi domestik dan global belum banyak berubah.
Rupiah ikut melemah
Selain IHSG, nilai tukar rupiah juga terlihat tertekan. Mata uang Indonesia melemah 0,18 persen ke posisi Rp17.175 per dolar AS, sejalan dengan sentimen pasar yang cenderung berhati-hati.
Kondisi ini memperkuat kehati-hatian pelaku pasar, terutama karena kebijakan moneter BI masih difokuskan pada stabilisasi. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mencermati lebih dekat arah suku bunga, pergerakan rupiah, dan respons pasar global.
Sinyal teknikal belum kuat
Phintraco Sekuritas menilai IHSG belum mampu menembus area rata-rata bergerak lima hari atau MA-5. Lembaga itu juga mencatat histogram positif pada indikator MACD menurun, sementara stochastic RSI berada dalam kondisi jenuh beli.
Melalui kondisi teknikal tersebut, Phintraco memperkirakan IHSG masih berpotensi konsolidasi pada rentang 7.500–7.600 pada perdagangan berikutnya. Proyeksi ini sejalan dengan pasar yang masih menunggu kepastian lebih lanjut dari faktor eksternal maupun arah kebijakan moneter.
Bursa Asia bergerak campuran
Sentimen kawasan juga tidak sepenuhnya seragam. Indeks Ho Chi Minh Vietnam naik 1,31 persen dan Nikkei 225 Jepang menguat 0,4 persen, menandakan adanya dukungan di beberapa pasar regional.
Namun, tekanan juga terlihat di sejumlah bursa lain. Hang Seng Hong Kong turun 1,22 persen dan Straits Times Singapura melemah 0,24 persen, menunjukkan bahwa pasar Asia masih bergerak campuran di tengah ketidakpastian yang belum mereda.
