Harga emas dunia kembali melemah di pasar spot dan ditutup di level US$ 4.821,2 per troy ons pada perdagangan Senin (21/4/2026). Tekanan datang dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, sementara pasar juga mencermati potensi dampak lonjakan harga minyak terhadap inflasi global.
Pergerakan emas kali ini menunjukkan bahwa aset safe haven itu masih sangat sensitif terhadap eskalasi geopolitik. Di saat yang sama, kenaikan harga minyak jenis brent sebesar 5,64 persen ke US$ 95,48 per barel ikut membuat pelaku pasar berhati-hati karena kondisi tersebut dapat mengganggu ruang penurunan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Ketegangan geopolitik masih jadi penggerak utama
Bloombergtechnoz melaporkan bahwa pelemahan emas terjadi ketika dinamika di wilayah Timur Tengah kembali memanas. Pasar merespons situasi itu dengan sikap yang lebih defensif, meski arah pergerakan emas tidak sepenuhnya satu arah karena masih ada harapan diplomasi bisa berlanjut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyinggung berakhirnya gencatan senjata antara pihaknya dan Iran pada 22 April waktu setempat. Ia menegaskan proses negosiasi tidak akan dilakukan secara tergesa-gesa.
“Saya tidak akan tergesa-gesa dan membuat kesepakatan yang buruk. Kami punya waktu,” ujar Trump, seperti dikutip Bloomberg News. Pernyataan itu memberi sinyal bahwa jalur perundingan masih terbuka, tetapi pasar tetap menilai tensi politik belum mereda.
Pasar mencermati langkah diplomatik baru
Trump juga mengonfirmasi bahwa Wakil Presiden AS JD Vance sedang menuju Pakistan untuk mendukung upaya dialog lanjutan dengan Iran. Langkah ini muncul di tengah perhatian pasar terhadap penutupan Selat Hormuz oleh Teheran, yang menambah lapisan risiko bagi pasar energi dan komoditas.
Dari sisi Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyampaikan melalui Telegram bahwa dirinya telah berkomunikasi dengan pejabat Pakistan. Namun, Araghchi belum menjelaskan secara rinci apakah pembicaraan itu terkait langsung dengan keterlibatan Iran dalam negosiasi lanjutan dengan Amerika Serikat.
Kombinasi antara sinyal diplomasi dan ancaman geopolitik membuat pelaku pasar bergerak hati-hati. Emas tetap mendapat dukungan dari statusnya sebagai aset lindung nilai, tetapi tekanan jangka pendek muncul ketika investor memandang risiko mereda atau setidaknya tidak meningkat setajam sebelumnya.
Tekanan inflasi ikut membayangi emas
Kenaikan harga minyak brent menjadi faktor tambahan yang menekan sentimen pasar. Jika harga energi terus menguat, inflasi global berpotensi ikut naik dan membuat bank sentral menahan diri untuk tidak segera memangkas suku bunga.
Situasi seperti ini penting bagi emas karena ekspektasi suku bunga sering memengaruhi daya tarik logam mulia. Saat pasar menilai suku bunga akan bertahan lebih tinggi lebih lama, emas cenderung kehilangan sebagian momentumnya karena tidak memberikan imbal hasil seperti aset berbunga.
Christopher Wong, Strategist di Oversea-Chinese Banking Corp, menilai pergerakan emas saat ini sangat dipengaruhi persepsi risiko atas perkembangan geopolitik internasional. Menurut dia, aksi jual yang muncul tetap mencerminkan kewaspadaan pasar, meski peluang dialog masih ada.
“Aksi jual terhadap emas mencerminkan risiko akibat perkembangan geopolitik. Namun masih ada harapan bahwa kedua pihak akan datang dalam pembicaraan berikutnya,” kata Wong, seperti dikutip Bloomberg News. Pandangan itu menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya meninggalkan skenario perundingan sebagai penyeimbang harga.
Wong memproyeksikan emas akan bergerak dalam rentang US$ 4.700 hingga US$ 4.900 per troy ons untuk jangka pendek. Ia juga menyoroti indikator Stochastic RSI 14 hari yang berada di angka 90, yang menandakan kondisi jenuh beli dan membuka peluang koreksi lanjutan.
Dengan latar seperti itu, pergerakan emas pada perdagangan berikutnya masih akan sangat ditentukan oleh arah ketegangan di Timur Tengah, perkembangan negosiasi politik, serta respons pasar terhadap harga minyak yang kembali naik. Selama faktor-faktor tersebut belum mereda, harga emas berpeluang tetap berfluktuasi di sekitar rentang yang diperkirakan pelaku pasar.
