Airlangga Targetkan Ekonomi Kuartal I 2026 Tumbuh 5,5 Persen, Daya Beli Ditopang THR Dan Stimulus Rp809 Triliun

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 tumbuh minimal 5,5 persen. Proyeksi ini muncul di tengah dorongan kuat dari konsumsi masyarakat saat momentum hari besar keagamaan dan masih menunggu rilis resmi Badan Pusat Statistik.

Airlangga menyampaikan pandangan itu dalam konferensi pers mengenai realisasi investasi triwulan pertama tahun 2026. Ia menilai, laju ekonomi awal tahun ini mendapat sokongan dari belanja rumah tangga, penyaluran tunjangan hari raya, dan kebijakan fiskal pemerintah yang dijaga tetap ekspansif.

Dorongan dari konsumsi dan stimulus

Menurut Airlangga, konsumsi rumah tangga menjadi salah satu motor utama pertumbuhan di awal tahun. Pemerintah juga melihat peran penting THR dalam menggerakkan transaksi masyarakat, terutama pada periode hari besar keagamaan.

Selain itu, akselerasi belanja negara ikut memberi pengaruh terhadap aktivitas ekonomi. Airlangga menyebut total stimulus ekonomi yang telah digelontorkan untuk menjaga daya beli masyarakat berada di kisaran Rp809 triliun.

Langkah tersebut dirancang untuk menjaga konsumsi tetap bergerak di tengah tekanan global. Pemerintah menilai dukungan fiskal perlu terus hadir agar aktivitas ekonomi domestik tidak mudah terganggu oleh pelemahan eksternal.

Menunggu angka resmi BPS

Meski optimistis, pemerintah belum menetapkan angka final sebelum data resmi diumumkan Badan Pusat Statistik. Airlangga menegaskan bahwa proyeksi 5,5 persen masih bersifat awal dan menunggu validasi dari data pertumbuhan ekonomi nasional.

Pernyataan itu mencerminkan sikap hati-hati pemerintah dalam membaca kondisi ekonomi. Di satu sisi, sejumlah indikator dinilai memberi sinyal positif, tetapi di sisi lain angka resmi tetap menjadi acuan utama untuk memastikan arah pertumbuhan.

Tekanan global masih membayangi

Pemerintah juga mencermati ketidakpastian geopolitik global dan volatilitas harga energi dunia. Dua faktor tersebut dinilai dapat memengaruhi stabilitas ekonomi, sehingga respons kebijakan harus tetap terukur dan tidak agresif tanpa perhitungan.

Airlangga menyebut pemerintah berupaya menjaga fundamental ekonomi dalam negeri agar tetap kuat. Dalam pembacaan pemerintah, kebijakan fiskal ekspansif perlu terus dijalankan, tetapi tetap dengan kehati-hatian agar stabilitas makroekonomi tidak terganggu.

Arah kebijakan lanjut ke kuartal II

Upaya menjaga momentum pertumbuhan tidak berhenti pada kuartal I. Pemerintah menyiapkan sejumlah pendorong tambahan untuk kuartal II 2026, termasuk pencairan gaji ke-13 bagi aparatur negara.

Selain itu, keberlanjutan berbagai program perlindungan sosial juga akan dipertahankan. Kebijakan ini diharapkan bisa menjaga daya beli kelompok masyarakat yang menerima manfaat langsung dari program pemerintah.

Dengan kombinasi konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, THR, dan stimulus fiskal, pemerintah melihat peluang ekonomi tetap berada di jalur positif. Namun, kepastian arah pertumbuhan tetap bergantung pada data resmi BPS dan kondisi eksternal yang masih bergerak dinamis.

Terkait