BRI Dorong Klaster Usaha Ke Akar Ekonomi, 43.789 Kelompok Digembleng Di Sektor Riil

BRI memperkuat sektor riil dengan mendorong pemberdayaan klaster usaha sebagai salah satu cara untuk menggerakkan ekonomi masyarakat di daerah. Pendekatan ini diarahkan untuk membangun ekosistem usaha yang saling terhubung, sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi pelaku UMKM terhadap pembiayaan, pelatihan, dan sarana produksi.

Program Klasterku Hidupku menjadi salah satu instrumen utama yang dijalankan BRI untuk mendukung visi pembangunan nasional Asta Cita. Melalui skema ini, pelaku usaha dikelompokkan berdasarkan sektor dan wilayah sehingga pembinaan bisa berjalan lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan lokal.

Penguatan usaha dari level komunitas

Pola pemberdayaan berbasis klaster dinilai lebih efektif karena tidak hanya menyentuh aspek modal, tetapi juga perilaku usaha, kapasitas produksi, dan jejaring antar pelaku. Dalam pendekatan ini, usaha kecil tidak berjalan sendiri, melainkan bergerak bersama dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyebut pendekatan komunitas mampu memberi dampak yang lebih menyeluruh bagi UMKM. Ia menegaskan bahwa pemberdayaan dalam kelompok membuat pelaku usaha lebih mudah berkembang karena koneksi bisnis dan kapasitas kolektif ikut diperkuat.

BRI juga melihat skema klaster sebagai cara untuk memunculkan komoditas unggulan daerah dengan nilai jual yang lebih tinggi. Dengan begitu, produk lokal berpeluang memiliki daya saing yang lebih kuat ketika masuk ke pasar yang lebih luas.

Fokus pada sektor riil dan produksi

Sektor riil menjadi perhatian utama karena dinilai memberi efek pengganda yang besar terhadap perekonomian masyarakat. Dari data hingga Maret 2026, BRI telah mendampingi 43.789 klaster usaha di berbagai wilayah, dengan sekitar 3 ribu aktivitas pemberdayaan yang mencakup pelatihan teknis hingga penyediaan sarana produksi.

Komposisi klaster yang dibina juga menunjukkan arah penguatan pada aktivitas produksi. Sebanyak 82,39 persen klaster bergerak di sektor produksi, dan porsi terbesar ada pada pertanian yang mencapai 48,26 persen.

Adapun sektor non-produksi tercatat sebesar 17,61 persen dari total klaster. Keseimbangan antara sektor produksi dan non-produksi ini dipandang penting untuk menjaga aktivitas ekonomi yang berkelanjutan di tingkat akar rumput.

Inklusi keuangan ikut diperluas

Selain pemberdayaan usaha, BRI juga mendorong inklusi keuangan agar pelaku klaster lebih mudah masuk ke sistem layanan perbankan. Dari 508 ribu anggota klaster, 87,7 persen di antaranya telah memiliki rekening bank.

Kepemilikan rekening menjadi tahap awal yang penting bagi pelaku usaha untuk mengakses pembiayaan modal kerja. Akses ini memperbesar peluang bisnis anggota klaster untuk berkembang secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.

BRI menilai akses keuangan dan pemberdayaan usaha harus berjalan bersamaan. Dengan begitu, pelaku usaha tidak hanya menerima fasilitas perbankan, tetapi juga memperoleh penguatan kapasitas yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan bisnis.

Diperkuat lewat program lain

Penguatan klaster usaha juga ditopang oleh integrasi dengan program pemberdayaan lain. Hingga periode Maret 2026, Desa BRILiaN telah menjangkau 5.245 desa untuk memperkuat kapasitas ekonomi perdesaan.

Di sisi lain, BRI mengoperasikan 54 Rumah BUMN yang aktif memberi pendampingan kepada 559.897 pelaku UMKM melalui 18 ribu kegiatan pelatihan. Pada ranah digital, platform LinkUMKM telah melayani 15,57 juta pengguna untuk pengembangan bisnis secara daring.

Rangkaian inisiatif itu menunjukkan bahwa pemberdayaan sektor riil tidak dijalankan secara parsial. BRI menempatkan klaster usaha, pendampingan desa, pelatihan UMKM, dan layanan digital sebagai satu kesatuan untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dari tingkat paling dasar.

Terkait