Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memanfaatkan kontes sapi sebagai sarana untuk menggerakkan ekonomi peternak nasional, terutama menjelang Idul Adha. Kegiatan di Wonosobo itu diarahkan untuk meningkatkan kualitas ternak sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi peternak lokal.
Ajang ini juga dipandang sebagai ruang pertemuan antarpelaku usaha peternakan untuk saling bertukar pengalaman menghadapi lonjakan permintaan ternak. Pemerintah menilai kontes sapi dapat memicu kompetisi yang sehat dan memperkuat daya saing sektor peternakan nasional.
Dorongan agar peternak tetap bersemangat
Sudaryono menekankan pentingnya menjaga antusiasme peternak melalui kegiatan seperti kontes sapi agar iklim usaha tetap kondusif. Ia menyebut ajang tersebut bisa menjadi pemicu semangat, sehingga peternak terdorong untuk terus memperbaiki kualitas hewan yang dibudidayakan.
“Kontes ini menjadi trigger. Gengsi antar peternak harus kita pelihara supaya gayeng,” kata Sudaryono dalam keterangan resminya. Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya melihat kontes sebagai lomba, tetapi juga sebagai instrumen untuk membangun motivasi di tingkat peternak.
Perlindungan sapi betina produktif jadi perhatian
Selain mendorong semangat kompetisi, Sudaryono juga mengingatkan pentingnya menjaga sapi betina produktif agar pembibitan nasional tidak terganggu. Pesan itu disampaikan karena momentum Idul Adha biasanya meningkatkan kebutuhan hewan kurban di masyarakat.
“Supaya populasi kita tambah banyak, maka saya mengingatkan untuk Idul Adha tolong jangan dipotong sapi betina, yang dipotong sapi jantannya. Sapi betina please jangan dipotong,” ujarnya. Arahan ini menegaskan bahwa keberlanjutan populasi ternak tetap harus dijaga di tengah tingginya permintaan pasar.
Kontes sebagai ruang edukasi teknis
Ketua MPR RI Ahmad Muzani yang hadir dalam kegiatan tersebut menyebut kontes sapi berfungsi sebagai wadah edukasi teknis bagi para peternak. Menurut dia, para peserta dapat saling berbagi cara meningkatkan bobot badan sapi hingga mencegah penyebaran penyakit menular.
“Idul Adha adalah lebarannya peternak sapi. Karena itu kita mengadakan kontes karena ini arena mempertemukan peternak satu dan lain, saling bertukar cerita dan informasi bagaimana menaikkan bobot, mencegah penyakit termasuk PMK dan LSD,” kata Muzani. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa acara ini memiliki nilai praktis, bukan sekadar ajang pamer ternak.
Edukasi seperti ini menjadi penting karena peternak membutuhkan informasi lapangan yang relevan untuk menjaga kesehatan hewan dan meningkatkan nilai jual ternak. Dengan interaksi langsung antarpeternak, pengetahuan teknis dapat menyebar lebih cepat dan lebih mudah diterapkan.
Dukungan nyata untuk memacu produksi
Kementerian Pertanian juga memberi dukungan langsung kepada peserta kontes melalui hadiah sapi berbobot besar. Menurut Muzani, ada 5 sapi dengan bobot satu ton yang dihadiahkan untuk memacu semangat produksi para peternak.
“Sebagai cara agar semangat peternak, hari ini Kementerian Pertanian menghadiahkan 5 sapi di atas dengan bobot satu ton,” tuturnya. Dukungan semacam ini dinilai dapat memperkuat motivasi peternak untuk meningkatkan mutu dan produktivitas ternak.
Ketua Panitia Kontes Sapi APPSI Wonosobo, Feri Ananta, menyebut kegiatan tersebut sejalan dengan upaya mendukung kedaulatan pangan di sektor protein hewani. Ia menegaskan bahwa kontes sapi juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program pemerintah di bidang ketahanan pangan peternakan.
“Kita akan mengikuti program pemerintah terkait ketahanan pangan di bidang peternakan,” kata Feri. Dengan dukungan dari pemerintah, lembaga legislatif, dan komunitas peternak, kontes sapi diarahkan menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus ruang penguatan ekosistem peternakan nasional.







