Badan Pengelola Investasi Danantara tengah menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai pembahasan akuisisi saham Eramet di PT Weda Bay Nickel (WBN). Isu yang beredar menyebut lembaga investasi itu menjajaki pembelian seluruh atau sebagian kepemilikan saham perusahaan asal Prancis tersebut di tambang nikel Maluku Utara.
Hingga kini, baik Danantara maupun Eramet belum memberi penjelasan rinci soal kabar tersebut. Keduanya hanya menegaskan bahwa pembahasan masih berada pada tahap awal dan belum ada informasi final yang bisa disampaikan ke publik.
Sikap Eramet terhadap rumor pasar
Perwakilan manajemen Eramet Indonesia menyebut perusahaan tidak akan berkomentar lebih jauh terkait spekulasi transaksi yang beredar. Pernyataan itu disampaikan dengan merujuk pada praktik umum perusahaan global yang tidak mengonfirmasi rumor pasar sebelum ada kepastian resmi.
Eramet juga menegaskan fokus utama saat ini masih tertuju pada rencana pendanaan induk usaha. Salah satu agenda yang disebut adalah peningkatan modal senilai 500 juta Euro atau sekitar Rp10 triliun.
Selain itu, Eramet sedang meninjau portofolio asetnya untuk mencari peluang yang bisa mengoptimalkan nilai perusahaan. Opsi yang dibuka mencakup kemitraan strategis dan monetisasi aset yang sudah dimiliki.
Persiapan tambang dan rencana kapasitas produksi
Di tengah pembahasan investasi itu, Eramet juga menyiapkan fase pemeliharaan tambang di PT WBN. Langkah tersebut berkaitan dengan rencana penghentian operasional sementara bulan depan karena kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 diperkirakan habis pada Mei.
Manajemen Eramet menyatakan akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut kepada publik jika ada informasi baru. Perusahaan menekankan keterbukaan tetap akan dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku.
Posisi Danantara dalam pembahasan
Tim Komunikasi Danantara juga belum mengonfirmasi kebenaran isu akuisisi saham tersebut. Lembaga itu hanya menegaskan fokus pada pembangunan ekonomi jangka panjang melalui investasi strategis di berbagai sektor kunci.
“PT Danantara Investment Management [DIM] berfokus pada pembangunan ekonomi jangka panjang Indonesia melalui investasi strategis dan berkualitas tinggi di berbagai sektor kunci. Saat ini, kami belum dapat memberikan tanggapan terkait hal tersebut,” kata Tim Komunikasi Danantara.
Laporan dari MySteel menyebut Danantara berpotensi ikut dalam penawaran saham baru senilai Rp10 triliun yang direncanakan Eramet tahun ini. Masih menurut laporan itu, pembicaraan disebut baru berada pada tahap awal untuk porsi saham 38,7 persen di PT WBN.
Hubungan yang sudah dibangun sejak sebelumnya
Pembahasan kerja sama ini bukan hal yang benar-benar baru. Eramet, Danantara, dan Indonesia Investment Authority (INA) sebelumnya telah menandatangani kesepahaman untuk mengembangkan ekosistem bahan baku baterai kendaraan listrik.
Dalam konteks itu, Eramet menyebut diskusi dapat dilakukan dengan calon investor yang berpotensi ikut dalam peningkatan modal dan mendukung pertumbuhan jangka panjang grup. Hal ini juga membuka ruang bagi pembahasan investasi yang lebih luas di sektor hilirisasi nikel.
CEO Eramet Indonesia, Jerome Baudelet, sempat mengakui adanya pembicaraan intensif dengan lembaga investasi Indonesia. Ia mengatakan Weda Bay Nickel ikut masuk dalam diskusi kemitraan yang berjalan.
“Kami sedang berdiskusi dengan Danantara dan INA untuk bekerja sama. Jelas, Weda Bay Nickel terlibat dalam diskusi ini,” kata Baudelet.
Komposisi kepemilikan Weda Bay Nickel
Saat ini, PT Weda Bay Nickel dimiliki oleh Tsingshan Group sebesar 51,2 persen, Eramet sebesar 37,8 persen, dan PT Aneka Tambang Tbk sebesar 10 persen. Perusahaan pemegang izin usaha pertambangan khusus itu memiliki masa operasi hingga 2069.
CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, sebelumnya juga menyatakan keterbukaan terhadap tawaran investasi di Weda Bay. Ia menilai langkah tersebut bisa memperkuat portofolio hilirisasi tambang nikel di Indonesia, terutama karena Eramet dikenal sebagai salah satu investor besar di Eropa dalam sektor ini.
Di tengah masih berlangsungnya pembicaraan, perhatian pasar kini tertuju pada apakah Danantara akan benar-benar masuk sebagai calon investor baru atau sekadar menjadi bagian dari skema pendanaan yang lebih luas. Proses negosiasi yang masih awal membuat arah transaksi ini belum bisa dipastikan, sementara Eramet tetap menilai opsi kemitraan strategis sebagai bagian dari upaya menjaga pertumbuhan jangka panjang bisnisnya.







