Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memastikan stok BBM nasional masih berada di atas standar minimum. Ia menyampaikan hal itu setelah melapor kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, terkait kondisi pasokan energi domestik yang dinilai tetap aman.
Bahlil menegaskan kestabilan ini penting untuk menjaga distribusi solar dan bensin di tengah dinamika geopolitik global. Ia juga menyebut stok minyak mentah atau crude untuk kebutuhan kilang berada di atas batas minimum sehingga rantai pasok energi tetap terjaga.
Pasokan BBM Masih Aman
Dalam keterangannya, Bahlil mengatakan seluruh aspek BBM, baik solar maupun bensin, masih berada di posisi aman. Ia menyebut kondisi tersebut sudah berlangsung hampir dua bulan sejak munculnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk di Selat Hormuz.
Pernyataan itu memberi sinyal bahwa ketahanan energi Indonesia belum terganggu oleh situasi eksternal. Pemerintah menilai stabilitas pasokan menjadi faktor penting untuk menjaga aktivitas ekonomi dan kebutuhan transportasi masyarakat.
Fokus Berikutnya ke Impor LPG
Di sisi lain, pemerintah mulai memberi perhatian lebih besar pada ketergantungan impor liquefied petroleum gas atau LPG. Dalam penjelasannya, Bahlil menyebut konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, sementara sekitar 7 juta ton masih berasal dari impor.
Kondisi itu membuat substitusi energi menjadi salah satu agenda penting. Pemerintah pun tengah mengkaji sejumlah opsi agar kebutuhan LPG dalam negeri bisa dipenuhi dengan porsi produksi nasional yang lebih besar.
CNG dan DME Jadi Opsi Pengganti
Salah satu langkah yang dibahas adalah pemanfaatan Compressed Natural Gas atau CNG. Bahlil menyebut opsi ini berpotensi digunakan untuk sektor komersial seperti hotel dan restoran karena pasokan gas C1 dan C2 di dalam negeri dinilai melimpah.
Selain CNG, pemerintah juga membahas pengembangan Dimethyl Ether atau DME berbasis batu bara kalori rendah. Skema ini diposisikan sebagai alternatif untuk membantu mengurangi tekanan impor LPG dan mendukung kemandirian energi nasional.
Bahlil menegaskan bahwa pembahasan CNG masih berlangsung dan perlu difinalisasi sebelum masuk tahap lebih lanjut. Meski begitu, arah kebijakannya sudah jelas, yaitu mencari sumber energi pengganti yang lebih efisien dan sesuai dengan sumber daya domestik.
Strategi Tekan Impor Solar
Upaya pemerintah tidak berhenti di sektor LPG. Bahlil juga menyampaikan bahwa optimalisasi lifting migas menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Selain itu, pemerintah terus mendorong program biodiesel B50 dan bioetanol E20 sebagai bagian dari diversifikasi energi. Menurut Bahlil, hasil uji jalan B50 pada kendaraan otomotif menunjukkan performa mesin dan filter bahan bakar tetap aman sesuai standar pabrikan.
Program B50 juga mulai diperluas ke sektor perkeretaapian melalui uji jalan pada lokomotif. Langkah ini ditujukan untuk menekan impor solar secara signifikan dan memperluas pemakaian bahan bakar nabati di dalam negeri.
Tiga Arah Kebijakan Energi
Bahlil merangkum arah kebijakan pemerintah dalam menghadapi tantangan energi global ke dalam tiga langkah utama. Pertama, mengoptimalkan lifting migas, kedua memperluas diversifikasi seperti B50, dan ketiga mendorong pengembangan bahan bakar berbasis etanol atau E20.
Menurutnya, ketiga langkah itu saling melengkapi untuk menjaga kedaulatan energi nasional. Dengan stok BBM yang masih di atas standar dan berbagai skema substitusi yang terus dibahas, pemerintah berupaya memastikan pasokan energi tetap stabil di tengah tekanan pasar global.







