Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan Indonesia tidak termasuk negara yang sengaja melemahkan mata uang untuk menjaga daya saing. Ia menyampaikan bantahan itu di tengah sorotan Amerika Serikat soal dugaan manipulasi kurs saat rupiah tertekan pelemahan.
Tekanan pada rupiah muncul seiring gejolak global yang membuat banyak mata uang di kawasan ikut bergerak melemah. Data Refinitiv mencatat rupiah ditutup turun 0,15 persen ke level Rp17.210 per dolar AS pada perdagangan Selasa, sementara Bloomberg sempat menunjukkan dolar AS menyentuh Rp17.239 atau naik 28 poin.
Airlangga: Indonesia tidak masuk daftar dugaan manipulasi
Airlangga mengatakan tuduhan itu tidak tepat jika diarahkan ke Indonesia. Dalam acara Roundtable Menakar Denyut Ekonomi di Tengah Gejolak Global di Jakarta Selatan, ia menegaskan bahwa Indonesia bukan negara yang sengaja memperlemah mata uang demi keuntungan ekspor atau daya saing.
“Dan bahkan kalau Amerika merasa bahwa beberapa negara di Asia itu melakukan currency manipulation untuk memperkuat daya saing, sengaja memperlemah currency-nya, Indonesia tidak termasuk dalam negara tersebut,” ujar Airlangga. Ia menambahkan bahwa pemerintah terus menjaga agar stabilitas nilai tukar tetap terpelihara.
Pernyataan itu juga menegaskan posisi pemerintah yang tidak ingin dianggap mengambil langkah melawan arus pasar. Airlangga menyebut kondisi rupiah saat ini lebih mencerminkan tekanan eksternal yang juga dirasakan negara lain di Asia, termasuk Jepang.
Pemerintah dan BI jaga stabilitas rupiah
Airlangga menyebut pemerintah bersama Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar. Ia menilai berbagai kebijakan perlu ditempuh agar tekanan global tidak langsung menekan perekonomian domestik.
“Namun tentu kita tidak against the flow ya. Kalau flow-nya, anginnya headwind tentu kita tidak untuk menabrak, tapi dengan berbagai kebijakan,” kata Airlangga. Ungkapan itu menunjukkan bahwa pemerintah memilih merespons tekanan pasar dengan penyesuaian kebijakan, bukan dengan intervensi yang ditujukan untuk melemahkan mata uang secara sengaja.
Dari sisi bank sentral, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebelumnya menjelaskan bahwa pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan regional. Ia mencatat pelemahan rupiah secara year-to-date mencapai 3,54 persen akibat tingginya ketidakpastian pasar global.
“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54%,” kata Destry dalam keterangan tertulis. Data itu memperkuat pandangan bahwa tekanan pada rupiah bukan fenomena tunggal, melainkan bagian dari pelemahan mata uang di kawasan.
Faktor eksternal tetap dominan
Di luar soal tuduhan manipulasi kurs, tekanan rupiah juga dipengaruhi sentimen global yang belum stabil. Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai kebuntuan resolusi konflik antara Iran dan Amerika Serikat ikut menjadi pemicu utama pelemahan mata uang Garuda.
Ibrahim menjelaskan bahwa situasi di Timur Tengah berdampak pada jalur energi strategis di Selat Hormuz. Ia menyebut penutupan sebagian jalur tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah Brent di atas US$108 per barel dan menambah kekhawatiran pasar.
“Upaya untuk mengakhiri perang AS-Iran tampaknya terhenti, dengan jalur air penting Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup,” ujar Ibrahim. Ia menambahkan bahwa jalur itu biasanya membawa pasokan setara sekitar 20 persen konsumsi minyak dan gas global.
Pasar menunggu sinyal The Fed
Pelaku pasar juga menyoroti pertemuan Bank Sentral AS atau The Fed yang dijadwalkan memberi petunjuk kebijakan moneter terbaru. Di tengah sentimen aset aman, indeks dolar AS atau DXY terpantau menguat 0,20 persen ke level 98,689.
Ibrahim memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Kondisi itu berpotensi menjaga kekuatan dolar AS dan membuat tekanan terhadap rupiah tetap tinggi, terutama jika sentimen global belum membaik.
Dalam situasi seperti ini, penegasan Airlangga bahwa Indonesia tidak melakukan manipulasi mata uang menjadi penting untuk membaca arah kebijakan pemerintah. Fokus utama tetap pada menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang datang dari penguatan dolar, ketegangan geopolitik, dan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS.







