Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memimpin rapat koordinasi dengan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan sejumlah pemangku kepentingan sektor energi di Jakarta. Pertemuan ini membahas langkah mitigasi atas dampak eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap stabilitas nasional, terutama di sektor energi.
Koordinasi tersebut melibatkan Kepala SKK Migas, PT Pertamina (Persero), serta jajaran menteri dan pimpinan lembaga tinggi negara. Sinkronisasi ini dinilai penting untuk menjaga agar kebijakan pemerintah tetap berjalan di tengah tekanan eksternal yang berpotensi mengganggu pasokan energi.
Fokus pada ketahanan energi
Listyo Sigit mengatakan, para pimpinan lembaga dan menteri telah memberi gambaran umum mengenai kondisi yang perlu dijaga bersama. Ia menegaskan bahwa pemerintah harus memastikan program prioritas tetap terlaksana meski situasi global belum stabil.
“Secara umum tadi kami mendapatkan gambaran dari para pemangku kebijakan… ini menjadi penting dan strategis untuk kita bersama-sama menjaga apa yang saat ini sudah bisa dilaksanakan oleh pemerintah,” kata Listyo Sigit Prabowo.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa kepolisian ikut memberi perhatian pada aspek pengamanan stabilitas ekonomi dan ketersediaan sumber daya bagi masyarakat. Dalam situasi seperti ini, pengawasan terhadap potensi dampak lanjutan dari konflik luar negeri menjadi bagian dari antisipasi nasional.
Selat Hormuz jadi perhatian utama
Kawasan Selat Hormuz kembali menjadi sorotan karena jalur ini disebut melayani seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Jika jalur tersebut terganggu, efeknya dapat cepat menjalar ke rantai pasok energi global dan memicu tekanan harga.
Dampak awalnya sudah terlihat pada pasar minyak. Harga minyak Brent dilaporkan naik 2,3 persen hingga menembus US$110 per barel pada penutupan perdagangan Selasa.
Kenaikan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa gejolak di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kawasan sekitar, tetapi juga pada pasar energi internasional secara umum. Situasi ini membuat koordinasi antarlembaga menjadi lebih penting agar respons pemerintah tetap cepat dan terarah.
Tekanan mulai dirasakan di sejumlah wilayah
Kebuntuan diplomatik yang berlangsung juga disebut mulai memicu pembatasan bahan bakar di wilayah Asia dan Afrika. Kondisi itu memperlihatkan bahwa gangguan pasokan energi dapat muncul dalam bentuk yang berbeda-beda, mulai dari keterbatasan distribusi hingga lonjakan harga.
Di sisi lain, masih ada pergerakan logistik yang berhasil berlangsung di tengah ketegangan. Laporan menyebut pengiriman perdana gas alam cair melalui Kapal Mubaraz dari Uni Emirat Arab telah mencapai ujung selatan India setelah melintasi Teluk Persia.
Perkembangan tersebut menjadi sinyal bahwa jalur energi global masih beroperasi, meski berada dalam pengawasan ketat. Namun, selama eskalasi konflik belum mereda, pemerintah dan pemangku kepentingan energi diperkirakan tetap perlu menjaga kewaspadaan agar pasokan dalam negeri tidak ikut terdampak.







