Meta Platforms kembali menanggung beban besar dari unit Reality Labs, divisi yang menggarap teknologi virtual reality, augmented reality, dan perangkat wearable. Dalam laporan keuangan kuartal I-2026, lini bisnis ini membukukan kerugian operasional US$4,03 miliar atau sekitar Rp69,4 triliun, sementara pendapatannya hanya US$402 juta atau sekitar Rp6,97 triliun.
Kinerja tersebut memang sedikit lebih baik dibandingkan perkiraan analis Wall Street yang memproyeksikan rugi US$4,82 miliar dengan pendapatan US$488,8 juta. Namun, angka itu tetap menegaskan bahwa bisnis metaverse Meta masih jauh dari kata menguntungkan.
Kerugian yang terus menumpuk
Reality Labs sudah menjadi salah satu sumber pembakaran dana terbesar di tubuh Meta. Sejak akhir 2020, akumulasi rugi operasional unit ini telah melampaui US$80 miliar.
Beban itu menunjukkan betapa mahalnya ambisi Meta membangun ekosistem virtual untuk masa depan. Di saat pengeluaran untuk proyek ini terus membengkak, pendapatan yang masuk masih belum mampu menutup biaya operasional.
Arah investasi mulai bergeser
Divisi ini awalnya menjadi pusat dari transformasi besar yang dipimpin Mark Zuckerberg pada 2021. Saat itu, Facebook resmi berganti nama menjadi Meta karena perusahaan yakin aktivitas kerja dan hiburan akan bergerak ke dunia virtual.
Namun, peta persaingan berubah cepat setelah ledakan AI generatif yang dipicu kemunculan ChatGPT pada akhir 2022. Meta disebut tertinggal dari sejumlah pemain besar seperti OpenAI, Anthropic, dan Google dalam perlombaan kecerdasan buatan.
Kondisi itu mendorong Meta mengalihkan fokus ke pengembangan infrastruktur AI, model baru, dan layanan berbasis kecerdasan buatan. Di sisi lain, Reality Labs justru menerima pengetatan anggaran.
PHK dan efisiensi jadi langkah lanjutan
Perubahan strategi itu ikut memengaruhi tenaga kerja di dalam perusahaan. Pada Januari 2026, Meta memutuskan memangkas sekitar 1.000 karyawan Reality Labs untuk mengalihkan sumber daya dari proyek VR ke perangkat wearable berbasis AI.
Langkah tersebut muncul setelah kesuksesan tak terduga dari kacamata pintar Ray-Ban Meta smart glasses yang dikembangkan bersama EssilorLuxottica. Produk itu memberi sinyal bahwa perangkat wearable berbasis AI punya peluang bisnis yang lebih menjanjikan dibanding sebagian proyek metaverse.
Gelombang efisiensi berlanjut pada Maret 2026 saat Meta kembali memangkas ratusan karyawan di sejumlah divisi, termasuk Reality Labs, Facebook, operasional global, rekrutmen, dan penjualan. Perusahaan juga mengumumkan rencana memangkas sekitar 10 persen dari total tenaga kerja atau sekitar 8.000 karyawan, serta menghentikan perekrutan untuk 6.000 posisi yang masih terbuka.
Reality Labs masih jadi ujian besar Meta
Rangkaian langkah tersebut memperlihatkan bahwa Meta belum benar-benar meninggalkan ambisi metaverse, tetapi perusahaan kini lebih berhati-hati dalam membiayai proyek itu. Di saat yang sama, bisnis AI dan perangkat wearable mulai diposisikan sebagai mesin pertumbuhan baru yang lebih dekat ke pasar.
Meski begitu, besarnya rugi Reality Labs pada kuartal I-2026 menunjukkan bahwa jalan menuju profit masih panjang. Selama pendapatan unit ini belum tumbuh sebanding dengan biaya pengembangan, Reality Labs tetap menjadi salah satu taruhan paling mahal dalam strategi jangka panjang Mark Zuckerberg.
Source: www.viva.co.id