PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) mencatat penjualan emas sebesar Rp23,89 triliun sepanjang kuartal I/2026. Kontribusi segmen ini mencapai sekitar 81% dari total pendapatan bersih perseroan, menegaskan posisi emas sebagai penopang utama kinerja perusahaan.
Realisasi tersebut juga menunjukkan kenaikan 11% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp21,61 triliun. Dari sisi volume, ANTM menjual logam mulia sebanyak 8.464 kilogram.
Emas masih jadi motor utama kinerja ANTM
Kuatnya penjualan emas ikut mendorong total penjualan bersih ANTM naik 12% secara tahunan menjadi Rp29,32 triliun. Pasar domestik menjadi penyumbang terbesar dengan serapan mencapai Rp28,31 triliun.
Dominasi pasar dalam negeri menunjukkan bahwa permintaan emas masih terjaga baik di tengah dinamika ekonomi. Kondisi ini membantu perusahaan mempertahankan pertumbuhan pendapatan dari lini bisnis utamanya.
Kenaikan omzet dari segmen emas juga berdampak langsung pada laba bersih perseroan. ANTM membukukan laba bersih Rp3,66 triliun, atau melonjak 58% dibandingkan periode sebelumnya.
Laba bersih per saham dasar pun ikut meningkat menjadi Rp141,77 dari sebelumnya Rp88,69. Angka ini mencerminkan perbaikan profitabilitas yang cukup signifikan dalam periode pelaporan tersebut.
Strategi domestik dan pengelolaan operasional
Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menyebut capaian itu lahir dari strategi pemasaran domestik yang lebih inovatif dan adaptif terhadap kondisi pasar. Ia juga menekankan pentingnya eksekusi operasional dan pengelolaan keuangan yang disiplin.
“Implementasi strategi operasional yang tangguh, serta manajemen keuangan yang disiplin dan prudent telah mendorong penguatan kinerja secara berkelanjutan,” ujar Untung dalam keterangan resmi, Selasa (28/4/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan ANTM tidak hanya bertumpu pada harga atau permintaan emas semata. Perusahaan juga mengandalkan efisiensi dan pengendalian keuangan untuk menjaga kinerja tetap solid.
Kontribusi nikel, bauksit, dan alumina ikut menguat
Selain emas, segmen nikel memberikan kontribusi sebesar Rp4,47 triliun atau sekitar 15% dari total penjualan. Penjualan dari lini ini tumbuh 19% secara tahunan, dengan volume produksi bijih nikel mencapai 3,88 juta wet metric ton (wmt).
Segmen bauksit dan alumina juga mencatat pertumbuhan 24% dengan pendapatan Rp879,14 miliar. Produksi bauksit tercatat 628.785 wmt, sedangkan alumina mencapai 49.566 ton.
Perkembangan pada dua segmen tersebut memperlihatkan bahwa ANTM tidak hanya bergantung pada emas. Portofolio bisnis yang lebih beragam memberi ruang tambahan bagi perusahaan untuk menjaga momentum pertumbuhan pendapatan.
Aset dan likuiditas ikut menguat
Hingga akhir Maret 2026, total aset Antam meningkat 31% menjadi Rp63,30 triliun. Ekuitas perusahaan juga naik 17% secara tahunan menjadi Rp40,41 triliun.
Dari sisi likuiditas, posisi kas dan setara kas perusahaan bertambah menjadi Rp9,04 triliun. Cadangan kas yang lebih besar memberi ruang gerak lebih luas bagi ANTM untuk mendukung kebutuhan operasional ke depan.
Dengan dukungan penjualan emas yang kuat, kontribusi segmen lain yang terus bertumbuh, serta posisi keuangan yang makin solid, kinerja ANTM pada kuartal I/2026 menunjukkan struktur bisnis yang masih bergerak positif dan tetap ditopang oleh permintaan domestik yang besar.
