Harga minyak dunia melonjak tajam dan sempat menembus US$ 126 per barel setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu penutupan Selat Hormuz. Jalur itu merupakan salah satu urat nadi distribusi energi global, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut langsung mengguncang pasar.
Patokan global minyak mentah Brent bahkan sempat menyentuh US$ 126,41 per barel, level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Namun, harga itu kemudian terkoreksi ke US$ 115,8 per barel karena volume perdagangan menyusut.
Lonjakan ini memperlihatkan perubahan besar dibandingkan kondisi sebelum perang pecah, ketika harga masih berada di kisaran US$ 73 per barel. Dalam hitungan waktu singkat, harga minyak dunia hampir dua kali lipat dari posisi awal tahun 2026 sebelum ketegangan geopolitik meningkat.
Tekanan di pasar energi
Pergerakan tajam juga terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI yang menjadi acuan di Amerika Serikat. Pada perdagangan kemarin, harga WTI turun 0,7 persen ke level US$ 106 per barel.
Kenaikan harga minyak langsung terasa pada biaya energi konsumen di Amerika Serikat. Rata-rata harga bensin mencapai US$ 4,30 atau sekitar Rp 19.687 per liter, menambah beban rumah tangga dan pelaku usaha.
Dampaknya tidak berhenti di pompa bensin. Biaya energi yang lebih tinggi ikut menekan sektor industri manufaktur yang bergantung pada bahan baku turunan minyak bumi.
Efek berantai ke industri dan pasokan
Tekanan itu terasa pada bahan seperti tekstil, karet sintetis, dan plastik. Kondisi tersebut ikut memicu kelangkaan beberapa produk di pasar global, termasuk kosmetik, mi instan, dan peralatan medis berupa sarung tangan.
Kawasan Asia menjadi wilayah yang paling rentan karena ketergantungannya yang tinggi terhadap impor energi. Situasi ini menjadi lebih rumit karena Asia juga merupakan pusat produksi berbagai barang untuk pasar dunia.
Para ekonom memperingatkan risiko resesi global jika gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz terus berlanjut hingga semester kedua tahun 2026. Kenaikan harga energi yang berkepanjangan juga berpotensi menekan perdagangan lintas negara.
Ketidakpastian masih tinggi
Vandana Hari, pendiri Vanda Insights, menilai pasar belum melihat kepastian kapan selat itu akan kembali dibuka secara permanen. Ia menyebut harga minyak hanya punya satu arah selama ketidakpastian itu belum berakhir.
“Harga minyak tidak punya pilihan selain naik sampai pembukaan kembali selat secara permanen terwujud. Saat ini, bagaimana dan kapan itu akan terjadi masih menjadi tebak-tebakan siapa pun,” kata Vandana Hari.
Di sisi lain, beberapa negara mulai menghadapi ancaman inflasi yang melonjak seiring naiknya biaya logistik dan turunnya daya beli konsumen. Krisis pasokan bahan bakar yang berlangsung lebih lama berisiko memperburuk stabilitas ekonomi internasional.
