Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan harga Pertalite, Solar, dan LPG 3 kg tidak akan naik hingga akhir tahun 2026. Kepastian itu ia sampaikan di tengah kekhawatiran publik atas tekanan harga energi dan biaya impor yang tetap tinggi.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena Bahlil bahkan mengaitkannya dengan skenario ekstrem ketika harga patokan minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price menyentuh US$100 per barel. Pemerintah, menurutnya, tetap berkomitmen menahan harga BBM dan LPG bersubsidi demi menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.
Tekanan biaya dan beban subsidi
Bahlil menyebut impor LPG masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah karena biayanya mencapai Rp137 triliun. Di saat yang sama, subsidi harga jual LPG 3 kg berada di kisaran Rp80 triliun hingga Rp87 triliun.
Ia juga menjelaskan bahwa kapasitas terpasang produksi LPG domestik mencapai 1,9 juta ton, tetapi output maksimal yang bisa dihasilkan hanya 1,6 juta hingga 1,7 juta ton. Kondisi itu membuat Indonesia masih harus mengimpor sekitar 7 juta ton LPG per tahun.
Keterbatasan pasokan domestik berkaitan dengan minimnya kandungan propana dan butana dalam gas bumi Indonesia. Situasi ini membuat ketergantungan pada pasokan luar negeri sulit dihindari dalam waktu dekat.
Langkah pengurangan ketergantungan impor
Untuk meredam tekanan jangka panjang, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah pengganti energi. Salah satunya adalah mengoptimalkan penggunaan dimetil eter atau DME dari gasifikasi batu bara, serta memperluas pemanfaatan gas alam terkompresi atau CNG.
Di sektor bahan bakar kendaraan, pemerintah juga mempercepat implementasi bioetanol E20 yang ditargetkan berjalan pada 2028. Program ini diarahkan untuk menekan ketergantungan impor bensin yang masih besar.
Bahlil menyebut mandatori etanol E20 bisa mengurangi volume impor secara signifikan. Menurut perhitungannya, jika saat ini impor bensin mencapai 20 juta, maka porsi 20 persen dari program itu akan memangkas sekitar 8 juta, sehingga sisa impor menjadi 12 juta.
Risiko keekonomian tetap ada
Meski pemerintah menahan harga subsidi, tekanan pada harga keekonomian BBM belum hilang. Analis komoditas Wahyu Laksono menilai harga Pertalite berpotensi naik secara keekonomian jika harga minyak dunia bertahan di atas US$100 per barel.
Wahyu juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah hingga Rp17.000 per dolar AS sebagai faktor yang menambah beban subsidi. Dalam hitungannya, harga keekonomian Pertalite bisa berada di kisaran Rp11.500 hingga Rp12.000 jika kondisi itu terus berlangsung.
Namun, ia menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan politik pemerintah karena dampaknya sangat besar terhadap inflasi. Artinya, harga di tingkat konsumen bisa saja dijaga tetap stabil meski tekanan pasar global terus meningkat.
Kuota subsidi 2026 sudah ditetapkan
BPH Migas telah menetapkan kuota subsidi Pertalite tahun 2026 sebesar 29,26 juta kiloliter. Untuk Solar, kuotanya ditetapkan 18,63 juta kiloliter, sementara LPG 3 kg dipatok 8,31 juta ton.
Besaran kuota itu menunjukkan besarnya kebutuhan energi bersubsidi yang masih harus dipenuhi negara. Dengan beban impor dan subsidi yang besar, kebijakan menjaga harga tetap menjadi pilihan utama pemerintah untuk saat ini.
