Ekspor Tuna Masih Mentah, Indonesia Terancam Kehilangan 45 Persen Nilai Tambah

Ekspor tuna Indonesia tengah menghadapi paradoks besar. Di satu sisi, komoditas ini sudah menembus nilai ekspor lebih dari 1 miliar dollar AS pada 2025, tetapi di sisi lain potensi nilai tambah yang hilang diperkirakan mencapai 45 persen karena ekspor masih didominasi bahan baku segar dan beku.

Kementerian Perdagangan menilai situasi ini membuat peran Indonesia sebagai pemasok tuna dunia belum sepenuhnya menghasilkan manfaat ekonomi maksimal. Masalah utamanya bukan pada volume semata, melainkan pada rendahnya porsi produk olahan bernilai tinggi yang masuk ke pasar global.

Nilai besar, tapi belum optimal

Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kementerian Perdagangan, Ari Satria, mengatakan dominasi bahan baku membuat peluang ekonomi dari tuna belum tergarap penuh. Ia menyebut mayoritas ekspor masih berupa bahan segar dan beku, bukan produk olahan premium yang punya nilai jual lebih tinggi.

Menurut Ari, Indonesia sebenarnya punya ruang besar untuk naik kelas lewat hilirisasi. Produk turunan seperti makanan siap saji, pangan fungsional, kolagen, dan minyak ikan disebut menyimpan peluang ekonomi yang jauh lebih besar bagi eksportir nasional.

Dorongan ke hilirisasi dan pasar premium

Ari menegaskan bahwa strategi hilirisasi, diversifikasi produk, dan ekspansi ke pasar premium dapat meningkatkan nilai ekspor secara signifikan. Dengan model seperti itu, industri tuna tidak lagi hanya bergantung pada pengiriman bahan mentah, tetapi mulai menangkap margin dari proses pengolahan.

Pemerintah juga melihat penguatan kualitas produk sebagai syarat penting agar ekspor tuna bisa bergerak lebih jauh. Tanpa perubahan struktur ekspor, capaian nilai yang besar berisiko tidak berbanding lurus dengan nilai tambah yang diterima industri dalam negeri.

Branding masih menjadi pekerjaan rumah

Selain persoalan struktur industri, citra tuna Indonesia di pasar internasional juga dinilai belum cukup kuat. Ari menilai branding tuna Indonesia masih lemah karena komoditas ini belum sepenuhnya menjadi identitas kuliner nasional yang dikenal luas dan bersaing di level dunia.

Ia mencontohkan bagaimana negara lain berhasil membangun daya tarik produk melalui penguatan citra budaya populer dan kolaborasi lintas sektor. Dalam pandangannya, tuna Indonesia juga membutuhkan pendekatan serupa agar lebih menonjol di pasar global.

Pertumbuhan ada, tetapi tantangan tetap besar

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan sektor tuna tumbuh konsisten sebesar 7,46 persen selama periode 2021 hingga 2025. Pertumbuhan ini menegaskan bahwa permintaan tetap ada dan industri masih punya pijakan untuk berkembang.

Namun, nilai ekspor yang sudah melampaui 1 miliar dollar AS pada 2025 belum otomatis menutup persoalan struktural di hulu dan hilir. Negara tujuan utama pengiriman komoditas ini adalah Amerika Serikat, Thailand, dan Jepang, sehingga peningkatan kualitas produk menjadi penting untuk menjaga dan memperluas pasar.

Ari menilai peluang tuna Indonesia masih sangat terbuka jika industri berani bergerak dari ekspor bahan baku ke produk bernilai tambah. Dengan diversifikasi, kualitas yang lebih baik, dan akses pasar global yang lebih kuat, sektor ini dinilai bisa menghasilkan manfaat ekonomi yang jauh lebih besar bagi Indonesia.

Terkait