Badan Pusat Statistik mencatat Tiongkok menjadi negara asal impor bahan baku plastik terbesar ke Indonesia pada Maret 2026. Posisi itu menegaskan kuatnya peran Tiongkok di tengah fluktuasi perdagangan non-migas nasional dan mengungguli Singapura serta Thailand.
Data BPS menunjukkan Tiongkok menyumbang 34,79 persen dari impor bahan baku plastik Indonesia. Singapura berada di posisi berikutnya dengan 12,35 persen, sedangkan Thailand berkontribusi 11,65 persen.
Secara lebih luas, kinerja impor nasional pada Maret 2026 mencapai US$19,21 miliar. Angka itu naik 1,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, komoditas plastik justru mengalami tekanan. Nilai impornya turun US$338,1 juta atau terkoreksi 14,96 persen secara bulanan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan rincian kontribusi negara pemasok utama dalam rilis resmi lembaga. Ia menegaskan bahwa Tiongkok tetap menjadi pemasok terbesar untuk bahan baku plastik ke Indonesia pada periode tersebut.
Selain plastik, kontribusi Tiongkok terhadap impor non-migas Indonesia juga sangat besar. Nilainya mencapai US$22,02 miliar atau setara 41,56 persen dari total impor non-migas nasional.
Kondisi pasar bahan baku plastik ikut tertekan oleh kenaikan harga Nafta. Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah disebut memicu lonjakan biaya bahan baku tersebut.
Dampaknya merambat ke tingkat pengecer. Sejumlah pelaku usaha melaporkan harga produk plastik melonjak hingga 100 persen dan mulai membebani industri makanan serta minuman.
Pemerintah merespons tekanan itu dengan menyiapkan insentif fiskal. Salah satunya adalah pembebasan bea masuk untuk produk plastik selama enam bulan ke depan.
Kebijakan tarif 0 persen tersebut ditujukan untuk menahan beban ekonomi masyarakat akibat tingginya harga komoditas global. Di saat harga bahan baku bergerak naik, struktur impor Indonesia tetap menunjukkan ketergantungan yang besar pada pasokan dari Tiongkok.
