Produksi Beras Nasional 2026 Melampaui Kebutuhan, Harga Pangan Dunia Ikut Terkoreksi

Produksi beras nasional yang melampaui kebutuhan konsumsi pada 2025 mulai memberi efek lebih luas dari yang diperkirakan. Indonesia tidak hanya mampu memenuhi pangan dari petani lokal, tetapi juga ikut menekan harga beras di pasar dunia dan memperkuat stabilitas pangan global.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyebut dampak itu terasa setelah impor beras dihentikan total sejak 2025. Saat Indonesia masih mengimpor hingga 7 juta ton, harga beras internasional sempat menyentuh US$ 660 per ton.

Produksi dalam negeri jadi penentu

Data Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025 mencatat produksi beras nasional mencapai 34,69 juta ton. Jumlah itu lebih tinggi dari kebutuhan konsumsi dalam negeri yang berada di kisaran 31,16 juta ton.

Dengan selisih tersebut, pemenuhan pangan sepanjang 2025 disebut sepenuhnya berasal dari petani lokal. Amran mengatakan penguatan produksi dan penekanan impor secara signifikan membuat harga dunia ikut turun, bahkan sempat berada di kisaran 340 dolar AS per ton.

FAO juga mencatat tekanan serupa pada pasar beras internasional. Indeks harga beras internasional atau FARPI terus merosot sepanjang tahun lalu, dan titik terendah dalam empat tahun terakhir terjadi pada November 2025 saat indeks berada di level 96,9.

Stok pemerintah pecahkan rekor

Penguatan produksi tidak berhenti pada ketersediaan pangan saja. Amran menegaskan cadangan beras pemerintah kini mencapai 5,12 juta ton, yang disebut sebagai stok tertinggi selama Republik Indonesia berdiri.

Ia membandingkan capaian itu dengan sejarah stok beras nasional pada 1984 yang pernah berada di sekitar 2,6 juta ton. Menurut dia, volume cadangan saat ini menjadi salah satu bukti bahwa pengelolaan stok pangan berjalan lebih kuat.

Lonjakan cadangan tersebut juga mendapat pengakuan internasional. Indonesia menerima dua apresiasi dari FAO dalam kurun waktu satu tahun atas kontribusinya terhadap sistem pangan global di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.

Amran menyebut apresiasi itu mencakup penghargaan tertinggi di bidang ketahanan pangan dan penghargaan atas kontribusi memperkuat sistem pangan global. Ia menilai capaian itu menempatkan Indonesia kembali dalam sorotan dunia setelah sebelumnya pernah menerima penghargaan serupa pada era Presiden Soeharto.

Impor turun, petani ikut diuntungkan

Laporan Rice Outlook April 2026 dari United States Department of Agriculture juga memperkuat tren penurunan impor Indonesia. Dalam laporan itu, Indonesia tercatat sebagai negara dengan pengurangan volume impor paling signifikan di antara 80 negara lain, yakni 3,8 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi lain, perbaikan produksi pangan ikut tercermin pada indikator kesejahteraan petani. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Nilai Tukar Petani Tanpa Perikanan konsisten berada di atas 120 sejak Juli 2024, dengan puncak 126,11 pada Februari 2026.

Indeks harga yang diterima petani padi juga bertahan di atas 130 poin sejak pertengahan 2024. Pada Maret 2026, indeks itu tercatat 144,52, naik dari 137,94 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Amran menegaskan keberhasilan sektor pangan tidak cukup diukur dari volume produksi. Menurut dia, penguatan produksi, membaiknya kesejahteraan petani, dan kontribusi terhadap stabilitas pangan dunia kini berjalan dalam satu arah yang sama.

Terkait