Pendapatan Metrodata Melejit 21,4 Persen di Kuartal I-2026, Tapi Laba Cuma Naik Tipis

PT Metrodata Electronics Tbk mencatat awal tahun yang solid dengan pendapatan bersih naik 21,4 persen menjadi Rp6,71 triliun pada kuartal I-2026. Kenaikan ini ditopang oleh tingginya permintaan produk teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia, terutama dari lini distribusi.

Di balik pertumbuhan itu, Metrodata juga menjaga profitabilitas meski tekanan biaya masih terasa. Laba bersih emiten sektor teknologi tersebut naik tipis 3,4 persen menjadi Rp158,9 miliar, sementara laba sebelum pajak meningkat 10,3 persen menjadi Rp295,7 miliar.

Kinerja paling kuat datang dari sektor distribusi TIK yang tumbuh 23,8 persen secara tahunan. Penjualan smartphone di segmen ini bahkan melonjak 45,5 persen dan menjadi pendorong utama kenaikan pendapatan.

Segmen distribusi menyumbang pendapatan eksternal sebesar Rp5,07 triliun dari total pendapatan bruto perusahaan. Susanto Djaja, Presiden Direktur MTDL, mengatakan pertumbuhan tersebut terutama didorong lonjakan segmen smartphone 45,5 persen secara tahunan.

Aktivitas belanja di tingkat dealer ikut menguat di tengah kondisi pasokan produk yang terbatas. Situasi ini memperkuat posisi Metrodata sebagai salah satu distributor perangkat keras dan perangkat lunak terbesar di pasar domestik.

Selain distribusi, unit bisnis solusi dan konsultasi digital juga tetap mencatat kinerja positif. Pendapatannya tumbuh 7,2 persen secara tahunan, dengan layanan awan dan managed services menyumbang 60,5 persen dari total pendapatan segmen tersebut.

Dari sisi profitabilitas, laba kotor perusahaan mencapai Rp510,2 miliar atau naik 17,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Total aset Metrodata juga meningkat 24,9 persen menjadi Rp14,64 triliun, sejalan dengan penambahan stok persediaan perangkat keras untuk memenuhi pipeline proyek.

Perusahaan juga memperbesar pinjaman jangka pendek menjadi Rp2,03 triliun untuk mendukung ekspansi modal kerja di sektor distribusi. Di saat yang sama, total ekuitas naik 11,9 persen menjadi Rp6,55 triliun, menandakan basis permodalan yang masih terjaga.

Namun, Metrodata tetap menghadapi risiko nilai tukar karena sebagian besar produk TIK masih diimpor menggunakan dolar AS. Pada akhir Maret 2026, rupiah berada di level Rp16.993 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.

Terkait