Harga Minyak Melonjak, Gagal Damai AS-Iran Menjaga Selat Hormuz Dalam Tekanan

Harga minyak dunia kembali melonjak setelah Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan atas proposal perdamaian yang diajukan Washington. Ketegangan yang belum mereda itu membuat pasar menilai pasokan energi global masih berada dalam kondisi ketat, terutama karena aktivitas di Selat Hormuz tetap terganggu.

Di Singapura, harga minyak mentah Brent Crude naik USD3,18 atau 3,14% menjadi USD104,47 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat USD3,09 atau 3,24% ke level USD98,51 per barel.

Pasar kembali cemas setelah negosiasi buntu

Harapan pelaku pasar terhadap meredanya konflik AS-Iran kembali melemah setelah Presiden Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian tersebut. Trump disebut menilai tanggapan Iran sebagai “tidak dapat diterima”, sehingga optimisme pasar yang sempat muncul sebelumnya langsung tertekan.

Situasi itu memicu kekhawatiran baru karena konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu masih berdampak pada arus distribusi energi dunia. Selat Hormuz tetap menjadi titik sensitif dalam jalur pengiriman minyak global dan gangguan di kawasan itu ikut menjaga harga minyak berada pada level tinggi.

Selat Hormuz tetap jadi perhatian utama

Selat Hormuz memegang peran penting sebagai salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia. Ketika ketegangan di kawasan meningkat, pasar langsung merespons karena risiko terhadap kelancaran pasokan bisa berdampak luas pada rantai distribusi energi internasional.

Analis pasar dari IG Group, Tony Sycamore, mengatakan perhatian investor kini mengarah ke kunjungan Trump ke China. Ia menilai ada harapan agar Trump dapat mendorong Beijing menggunakan pengaruhnya terhadap Iran untuk mengurangi gangguan di Selat Hormuz dan membuka jalan menuju gencatan senjata yang lebih luas.

Pasokan global masih terasa ketat

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menyebut dunia telah kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak dalam dua bulan terakhir akibat konflik tersebut. Menurut dia, pasar energi global tidak akan langsung stabil meski distribusi minyak nantinya kembali normal.

Pernyataan itu memperkuat pandangan bahwa dampak konflik tidak hanya berhenti pada gejolak harga harian. Pasar juga masih menghadapi tekanan dari kekhawatiran pasokan yang tertahan dan ketidakpastian terhadap jalur pengiriman energi utama.

Kapal tanker mulai ambil langkah ekstra

Data pelacakan pengiriman dari Kpler menunjukkan dua kapal tanker minyak kembali keluar dari Selat Hormuz pekan lalu dengan sistem pelacak dimatikan. Langkah itu dilakukan untuk menghindari potensi serangan Iran, dan tren semacam ini disebut makin umum dalam upaya menjaga kelangsungan ekspor minyak dari Timur Tengah.

Kondisi tersebut menegaskan bahwa pasar minyak belum lepas dari risiko geopolitik. Selama negosiasi politik belum menghasilkan titik temu dan gangguan di jalur pengiriman masih terjadi, harga minyak berpotensi tetap sensitif terhadap setiap perkembangan baru dari AS, Iran, dan kawasan sekitarnya.

Source: www.medcom.id
Exit mobile version