Harga Energi Dunia Melonjak, BBM, LPG, Hingga LNG Ikut Terkerek oleh Geopolitik

Tekanan harga energi global kembali meningkat karena pasar menghadapi kombinasi gangguan geopolitik, jalur distribusi yang terganggu, dan naiknya permintaan di Asia. Situasi ini ikut mendorong kenaikan harga BBM, LPG, dan LNG di berbagai negara, termasuk memberi dampak pada penyesuaian harga di Indonesia.

Direktur Eksekutif Rofirminer Institute, Komaidi Notonegoro, menilai energi kini menjadi isu yang berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi dan keamanan nasional. Ia menegaskan bahwa saat krisis terjadi, kebutuhan pangan dan energi biasanya menjadi prioritas utama untuk diamankan.

Geopolitik menekan pasar energi

Komaidi menyebut lonjakan harga energi saat ini tidak terutama dipicu faktor fundamental pasar. Menurut dia, tekanan datang dari konflik geopolitik yang membuat pelaku pasar lebih waspada dan konsumen menghadapi harga yang lebih tinggi dari kondisi normal.

Gangguan pada supply chain dan jalur distribusi energi memperburuk keadaan. Kondisi itu makin terasa ketika jalur penting seperti Selat Hormuz mengalami penutupan atau hambatan distribusi.

Dalam situasi seperti ini, harga minyak menjadi lebih mahal dari seharusnya. Karena minyak masih menjadi acuan utama bagi banyak produk energi, dampaknya langsung merambat ke komoditas lain.

LPG dan LNG ikut terdorong naik

Kenaikan harga minyak dunia juga memengaruhi produk gas seperti LPG dan LNG. Komaidi menjelaskan bahwa kedua produk tersebut terindeks pada harga minyak mentah, sehingga ketika minyak naik maka harga gas cenderung ikut terkerek.

Di Indonesia, penyesuaian harga mulai terlihat pada LPG industri non-subsidi 50 kg. Harga komoditas ini naik mengikuti harga global berbasis CP Aramco, dengan kenaikan sekitar 25–26 persen.

Secara angka, harga LPG industri tercatat bergerak dari sekitar US$21,9 per MMBtu menjadi sekitar US$28,3 per MMBtu. Dalam rupiah, harga tabung LPG 50 kg naik dari sekitar Rp 850 ribu menjadi sekitar Rp 1,06 juta per tabung pada Mei 2026.

BBM non-subsidi juga menyesuaikan

Dampak serupa muncul pada BBM non-subsidi di dalam negeri. Indonesia sudah memulai proses adaptasi melalui penyesuaian harga pada Mei 2026, sejalan dengan dinamika pasar dan biaya energi global.

Solar industri non-subsidi menjadi salah satu yang mengalami kenaikan paling besar. Harganya naik sekitar 77–84 persen, dari sekitar US$22,7 per MMBtu menjadi sekitar US$43 per MMBtu pada Mei 2026.

Dalam rupiah, harga solar industri bergerak dari kisaran Rp 14.200–Rp 14.500 per liter menjadi sekitar Rp 26.000–Rp 27.900 per liter. Perubahan ini menunjukkan bagaimana tekanan global cepat memengaruhi struktur harga energi domestik.

Volatilitas energi diperkirakan masih berlanjut

Merujuk data sejumlah lembaga energi internasional, harga energi regional masih berpotensi naik jika gangguan distribusi atau eskalasi konflik terus terjadi. Karena itu, banyak negara mulai memperkuat ketahanan energi lewat diversifikasi sumber, penguatan infrastruktur, dan penyesuaian kebijakan domestik.

Komaidi menilai faktor non-fundamental seperti ini sulit diprediksi durasinya. Ia juga menyebut mayoritas negara sudah melakukan penyesuaian kebijakan untuk menghadapi situasi tersebut.

Fenomena serupa tidak hanya terlihat di negara maju. Negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Filipina, dan Singapura juga mulai menata ulang strategi energi mereka agar pasokan domestik tetap terjaga di tengah pasar energi Asia yang masih bergejolak sepanjang 2026.

Source: www.viva.co.id
Exit mobile version