Starbucks Pangkas 300 Pekerja Korporat, Efisiensi Jadi Harga Dari Target Laba Berkelanjutan

Starbucks memangkas 300 karyawan korporat di Amerika Serikat sebagai bagian dari langkah baru untuk menekan kompleksitas dan memperkuat efisiensi operasional. Keputusan ini menandai babak lanjutan dari strategi pemulihan perusahaan di bawah CEO Brian Niccol, dengan fokus pada pertumbuhan laba yang lebih berkelanjutan.

PHK tersebut menyasar pekerja non-ritel dan divisi teknologi. Starbucks juga menutup sejumlah kantor dukungan regional, sementara perusahaan menilai ulang struktur internal agar beban kerja lebih tajam dan biaya lebih rendah.

Langkah ini tidak datang saat bisnis sedang terpuruk. Penjualan domestik Starbucks justru dilaporkan naik 7,1 persen pada kuartal terakhir, sehingga manajemen tampak ingin memanfaatkan momentum itu untuk merapikan organisasi.

Biaya restrukturisasi mencapai 400 juta dolar AS

Starbucks memperkirakan restrukturisasi ini akan memunculkan biaya sekitar 400 juta dolar AS. Beban itu terdiri dari 120 juta dolar AS untuk pesangon tunai dan 280 juta dolar AS untuk beban non-tunai aset.

Perusahaan menyebut penataan ulang ini sebagai bagian dari “Back to Starbucks strategy”. Dalam pernyataan resminya kepada CNBC, Starbucks mengatakan langkah ini dilakukan untuk membangun momentum bisnis yang sudah kuat dan mengembalikan perusahaan ke pertumbuhan yang tahan lama dan menguntungkan.

Manajemen juga menegaskan bahwa setiap pemimpin divisi telah meninjau fungsi kerjanya secara mendalam. Tujuannya adalah mempertajam fokus, memprioritaskan pekerjaan, mengurangi kompleksitas, dan menekan biaya.

Teknologi jadi salah satu sasaran utama

Di kantor pusat Seattle, 61 pekerja dari divisi teknologi diberhentikan secara permanen. Proses reorganisasi itu dijadwalkan berlangsung antara Juni hingga Agustus 2026.

Arah baru perusahaan juga menunjukkan penekanan pada percepatan layanan dan penggunaan kecerdasan buatan atau AI untuk efisiensi stok barang. Starbucks menyatakan investasi akan tetap diarahkan ke bagian yang paling penting bagi pertumbuhan jangka panjang.

Dalam video laporan keuangan kuartal kedua fiskal perusahaan, Brian Niccol menyebut pencapaian kuartal ini sebagai tonggak penting dalam proses pembalikan bisnis. Ia mengatakan strategi “Kembali ke Starbucks” adalah langkah utama pemulihan dan pekerjaan perusahaan berjalan lebih cepat dari target yang ditentukan.

Respons pasar kerja masih beragam

Di tengah gelombang PHK di perusahaan besar, pandangan dari sektor ketenagakerjaan menunjukkan bahwa peluang kerja penuh waktu masih terbuka di industri tertentu. Colleen McCreary, Chief People Officer di Credit Karma, mengatakan kepada Parade bahwa peluang seperti itu masih ada.

McCreary menyoroti pertumbuhan positif di industri pengiriman makanan, teknologi untuk pekerja jarak jauh, hiburan daring, serta layanan virtual relaxation dan mindfulness. Ia menilai kondisi pasar kerja sangat bergantung pada wilayah dan sektor, karena sebagian perusahaan memang tengah tertekan sementara yang lain justru berkembang.

Bagi Starbucks, restrukturisasi ini memperlihatkan upaya menjaga keseimbangan antara efisiensi biaya dan investasi pertumbuhan. Di saat penjualan domestik membaik, perusahaan memilih merapikan struktur korporat agar operasi lebih sederhana dan arah bisnis lebih fokus.

Exit mobile version