Nilai tukar rupiah masih dinilai punya ruang untuk menguat kembali dan berpeluang turun ke bawah Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat. Potensi itu terbuka jika kebijakan fiskal dan moneter bergerak lebih seimbang dalam menjaga stabilitas ekonomi serta kepercayaan pasar.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian menilai ruang rebound rupiah masih cukup besar bila pasar melihat koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia semakin solid. Menurut dia, penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada langkah bank sentral, tetapi juga pada dukungan kebijakan fiskal yang lebih jelas dan konsisten.
Tekanan nilai tukar masih besar
Fakhrul menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi karena banyak tekanan ekonomi akhirnya tertuju ke nilai tukar. Situasi itu makin terasa saat harga energi naik akibat konflik Timur Tengah dan berbagai biaya domestik ditahan agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Dalam kondisi seperti itu, tekanan ekonomi tidak hilang, melainkan berpindah ke rupiah. Ia menyebut rupiah menjadi shock absorber utama ketika inflasi dan harga energi ditahan, sementara beban penyesuaian tidak dibagi ke sektor lain.
Menurut Fakhrul, dalam keadaan normal kenaikan harga energi global biasanya menyebar ke banyak kanal, mulai dari inflasi, fiskal, harga domestik, hingga nilai tukar. Namun, jika sebagian besar penyesuaian ditahan, maka rupiah ikut menanggung beban yang lebih besar.
BI mulai lebih agresif
Dari sisi moneter, langkah Bank Indonesia dinilai mulai menunjukkan respons yang lebih progresif. Kenaikan BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dipandang sebagai sinyal penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan dan memulihkan kepercayaan pasar.
Fakhrul juga melihat BI mulai kembali memakai pendekatan pre-emptive, front loading, dan ahead the curve seperti pada 2018. Pendekatan itu dianggap penting agar pasar melihat otoritas moneter serius menjaga stabilitas rupiah dan inflasi jangka menengah.
Meski begitu, ia menegaskan stabilisasi rupiah tidak bisa dibebankan hanya kepada BI. Jika kebijakan moneter sudah mengetat tetapi sikap fiskal dan komunikasi kebijakan belum sinkron, tekanan terhadap rupiah tetap besar.
Pasar menunggu arah kebijakan yang lebih jelas
Fakhrul menilai pasar membutuhkan kebijakan yang lebih mudah dibaca, konsisten, dan kredibel. Ia juga menyoroti pentingnya roadmap kebijakan agar investor bisa memahami arah ekonomi secara lebih pasti.
Komunikasi kebijakan yang muncul mendadak di tengah sentimen pasar negatif dinilai berisiko menambah ketidakpastian. Dalam situasi global yang dipenuhi inflasi struktural, fragmentasi geopolitik, mahalnya energi, dan rumitnya rantai pasok, sinyal kebijakan yang seragam menjadi semakin penting.
Karena itu, kebijakan fiskal Indonesia juga perlu menyesuaikan diri dengan realitas global yang baru. Pasar, menurut Fakhrul, akan lebih percaya jika pemerintah dan BI bergerak dalam arah yang sama untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Rupiah dinilai terlalu lemah dibanding fundamental
Di tengah tekanan eksternal, Fakhrul menilai rupiah saat ini masih berada di level yang terlalu lemah dibandingkan fundamental ekonomi Indonesia. Ia menyebut fundamental domestik masih relatif solid, ditopang inflasi yang terkendali, perbankan yang sehat, dan pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga.
Dengan kombinasi kebijakan yang lebih seimbang, ruang penguatan rupiah dinilai terbuka cukup lebar. Fakhrul memperkirakan rupiah bisa menguat signifikan ke kisaran Rp 16.800-Rp 17.000 per dolar AS jika policy mix membaik dan burden sharing antara fiskal dan moneter terlihat lebih seimbang.
Mengutip Bloomberg pada Kamis (28/5/2026) pukul 13.56 WIB, rupiah spot berada di level Rp 17.847 per dolar AS di tengah pasar domestik yang sedang libur cuti bersama Iduladha. Kondisi itu menjadi salah satu gambaran bahwa pasar masih mencermati arah kebijakan ekonomi domestik dan koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia.
Source: www.beritasatu.com