Rupiah Tembus Rp 18.000, Pengusaha Besi Lamongan Menghitung Ulang Harga dan Untung

Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp 18.000 per dolar AS mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha besi dan baja. Kenaikan kurs membuat biaya pembelian material impor ikut naik dan menekan margin di tingkat distribusi maupun ritel.

Dampak itu terlihat pada usaha seperti Duta Merpati Depo Lamongan, Jawa Timur, yang memasok kebutuhan besi untuk kontraktor, bengkel las, dan toko besi skala kecil di Lamongan serta sekitarnya. Saat harga bahan baku bergerak naik, keluhan pelanggan pun ikut meningkat karena ongkos produksi dan pembelian material menjadi lebih mahal.

Ketergantungan pada bahan baku impor

Store Manager Duta Merpati Depo Lamongan, Muhammad Zaki, menjelaskan bahwa sekitar 90% kebutuhan besi masih berasal dari impor, terutama dari China. Kondisi ini membuat setiap perubahan nilai tukar dolar AS segera berpengaruh pada harga jual di pasar domestik.

“Dampaknya terasa karena 90% kebutuhan besi impor dari China, sehingga pasti berpengaruh. Hampir semua jenis besi mengalami kenaikan harga,” kata Muhammad Zaki, Kamis (4/6/2026).

Ketergantungan yang tinggi pada pasokan luar negeri membuat industri besi dan baja berada dalam posisi sensitif terhadap gejolak valuta asing. Ketika rupiah melemah, biaya pembelian material langsung membengkak dan ruang keuntungan pelaku usaha menyempit.

Harga coil ikut terdorong naik

Salah satu contoh paling nyata terlihat pada harga coil atau besi gulungan yang banyak dipakai di sektor manufaktur dan konstruksi. Zaki menyebut harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp 14.000 hingga Rp 15.500 per kilogram kini sudah menembus lebih dari Rp 20.000 per kilogram.

Kenaikan itu tidak hanya memengaruhi distributor, tetapi juga bengkel las dan pelaku usaha kecil yang memakai besi sebagai bahan baku utama. Dalam kondisi seperti ini, harga jual di tingkat hilir ikut terdorong naik agar pelaku usaha bisa menutup biaya pembelian material.

Penjualan masih stabil di tengah keluhan pelanggan

Meski harga terus meningkat, volume penjualan di Duta Merpati Depo Lamongan sejauh ini masih relatif stabil. Pelanggan memang banyak menyampaikan keluhan, tetapi kebutuhan dari sektor konstruksi dan usaha kecil masih berjalan sehingga transaksi tetap terjadi.

“Untuk saat ini, meskipun banyak pelanggan mengeluh karena kenaikan harga yang cukup signifikan, penjualan masih relatif stabil. Biasanya kami memasok kebutuhan kontraktor dan toko besi skala kecil di Lamongan,” ujarnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa permintaan pasar masih bertahan, meski tekanan biaya semakin besar. Pelaku usaha berharap daya beli masyarakat tidak turun terlalu jauh agar aktivitas perdagangan besi tetap bergerak.

Harapan pada stabilitas rupiah

Pelaku industri besi dan baja berharap kondisi ekonomi global segera membaik dan nilai tukar rupiah kembali stabil. Jika kurs menguat, tekanan biaya impor bisa berkurang dan harga material berpeluang lebih terkendali di pasar.

Stabilitas rupiah juga dinilai penting untuk menjaga kelancaran usaha di daerah, terutama bagi distributor, kontraktor, dan bengkel las yang sangat bergantung pada besi impor. Selama ketergantungan terhadap bahan baku dari luar negeri masih tinggi, pergerakan dolar AS akan terus menjadi faktor utama yang menentukan arah harga besi di dalam negeri.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version