
UMKM Kopi Toejoean berhasil naik kelas setelah mendapatkan pembinaan dari Rumah BUMN Jakarta yang dikelola BRI. Usaha kopi rumahan ini kini mampu mencatat omzet Rp 20 juta hingga Rp 25 juta per bulan dan menerima pesanan dalam skala besar dari berbagai perusahaan.
Kisah itu berangkat dari perubahan arah usaha saat pandemi COVID-19 membuat bisnis kursus pendidikan milik Misye berhenti. Pada Mei 2022, ia mulai merintis Kopi Toejoean sebagai kegiatan baru dari rumah produksi di Joglo, Kembangan, Jakarta Barat.
Misye mengaku awalnya tidak memiliki latar belakang di bisnis kopi. Ia kemudian mempelajari pembuatan kopi lewat berbagai pelatihan barista, baik gratis maupun berbayar, hingga mengenal ragam komoditas seperti robusta dan arabika.
Dari jaringan komunitas pelatihan itulah Misye mendapat dorongan untuk membuka usaha sendiri. Pemasaran awal dilakukan secara sederhana lewat media sosial dan WhatsApp, dengan produk yang saat itu masih dikemas dalam botol 250 ml dan dijual ke orang-orang terdekat.
Pertumbuhan usaha itu berjalan bertahap hingga Kopi Toejoean terpilih menjadi salah satu UMKM binaan Rumah BUMN. Sejak 2024, bisnis tersebut resmi bergabung dengan Rumah BUMN Jakarta yang berlokasi di Kemanggisan, Jakarta Barat.
Di sana, Misye mengikuti pelatihan manajemen usaha berbasis digital. Materi yang ia terima mencakup pembuatan konten menggunakan kecerdasan buatan, desain kemasan, teknik fotografi produk, dan penyusunan laporan keuangan digital.
Pendampingan itu menjadi penting karena Misye sebelumnya belum terbiasa dengan sistem kerja digital. Ia menyebut pelatihan tersebut membantunya bersaing dengan pelaku usaha muda yang sudah akrab dengan media sosial dan teknologi.
Selain kelas teori, Rumah BUMN BRI juga memberi fasilitas bagi UMKM yang lolos kurasi untuk memanfaatkan area kafe selama satu tahun sebagai sarana pemasaran langsung. Kesempatan itu membuat merek Kopi Toejoean lebih dikenal dan membuka jalan bagi pesanan yang datang dari perusahaan.
Saat ini, operasional Kopi Toejoean lebih fokus pada penjualan bawa pulang dari rumah produksi. Misye menegaskan usahanya tidak melayani dine in dan hanya melayani pembelian kopi to-go.
Dalam pengelolaan usaha, Misye mempekerjakan satu barista dan satu admin. Ia juga melibatkan tujuh siswa SMK sebagai tim kreatif yang membantu pengelolaan media sosial dan situs web setiap hari Sabtu.
Keterlibatan anak-anak SMK itu menjadi bagian dari upaya Misye membangun tim sekaligus memberi ruang belajar bagi generasi muda. Ia berharap pengalaman di Kopi Toejoean bisa melahirkan barista-barista baru dan memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Menu yang ditawarkan Kopi Toejoean cukup beragam, mulai dari kopi gula aren, kopi susu, americano, choco latte, green tea latte, hingga jeruk peras. Dari kegiatan bazar dan pameran kedinasan, usaha ini juga sempat menerima pesanan dalam jumlah besar, termasuk 600 hingga 700 cup untuk acara perusahaan.
Koordinator Rumah BUMN Jakarta, Jajang Rohmana, mengatakan pendampingan memang diarahkan untuk mendorong digitalisasi UMKM agar jangkauan pasarnya lebih luas. Secara nasional, BRI mengelola 54 Rumah BUMN yang menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi digital berkelanjutan bagi pelaku usaha lokal.









