Rupiah Jebol Rp18.110 dan IHSG Ambles 3%, Pasar Masih Meragukan Jurus Perry-Purbaya?

Nilai tukar rupiah dan IHSG sama-sama tertekan pada awal perdagangan, meski pasar baru saja menerima sinyal penguatan koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Rupiah sempat tembus Rp18.110 per dolar AS, sementara IHSG anjlok 3,23% dan membuat 532 saham bergerak di zona merah.

Pergerakan itu menunjukkan pasar belum langsung percaya bahwa langkah baru otoritas moneter dan fiskal akan cepat membalikkan tekanan yang sedang terjadi. Di bursa, sentimen jual masih dominan, sedangkan di pasar valas, pelemahan rupiah memperlihatkan investor masih berhati-hati menilai efektivitas kebijakan yang diumumkan.

Rupiah melemah saat pasar menunggu bukti

Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat turun 104 poin atau 0,58% dibandingkan penutupan sebelumnya. Posisi Rp18.110 per dolar AS menjadi penanda bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda belum mereda, meski pemerintah dan BI sudah menyampaikan komitmen menjaga stabilitas.

Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa pasar ingin melihat hasil nyata, bukan hanya pernyataan koordinasi. Di tengah arus modal yang masih sensitif terhadap arah suku bunga global, ekspektasi pelaku pasar tetap tertuju pada kemampuan otoritas menjaga daya tarik aset rupiah.

IHSG ikut terseret tekanan jual

Di pasar saham, IHSG dibuka dengan pelemahan tajam 3,23% atau 180,89 poin ke level 5.413. Data RTI Business menunjukkan indeks sempat bergerak ke level tertinggi harian 5.490, tetapi kemudian turun hingga menyentuh 5.370.

Tekanan jual terlihat merata di banyak saham. Sebanyak 532 saham bergerak melemah, hanya 53 saham yang menguat, sementara 114 saham tidak bergerak.

Jurus BI dan Kemenkeu masih diuji pasar

Perry Warjiyo sebelumnya menyebut ada dua langkah utama yang akan ditempuh untuk memperkuat stabilitas. Langkah itu mencakup peningkatan daya tarik instrumen keuangan domestik agar investor asing kembali masuk ke saham, SBN, dan SRBI, serta menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan.

Perry juga menyoroti bahwa kenaikan suku bunga global telah mendorong keluar arus modal dari berbagai instrumen investasi di Indonesia. Ia menegaskan, "Fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah."

Pasar menilai langkah itu belum cukup

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai kebijakan baru tersebut lebih tepat dibaca sebagai upaya menahan pelemahan rupiah. Menurut dia, strategi itu belum otomatis menjamin penguatan yang berkelanjutan.

Josua menjelaskan bahwa kenaikan imbal hasil aset rupiah memang bisa menarik dana asing kembali ke SBN dan SRBI. Namun, efektivitas langkah itu tetap bergantung pada tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi domestik.

"Jika pemodal masih melihat risiko kebijakan domestik tinggi, kenaikan imbal hasil hanya akan menjadi kompensasi risiko, bukan pemulihan kepercayaan," ujarnya.

Likuiditas jadi faktor penting

Selain imbal hasil, kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan juga menjadi perhatian. Josua menilai tekanan terhadap rupiah kerap membesar saat pelaku pasar berebut likuiditas dan perbankan makin hati-hati menyalurkan dana.

Ia menekankan bahwa likuiditas yang memadai dapat menjaga fungsi pasar uang, mendukung kredit, dan memperkuat operasi moneter BI. Namun, kebijakan itu harus dijalankan seimbang karena likuiditas yang terlalu ketat bisa menekan ekonomi riil, sementara likuiditas yang terlalu longgar saat rupiah melemah bisa mendorong permintaan valas.

Kepercayaan investor masih jadi kunci

Josua menilai penguatan rupiah yang lebih tahan lama memerlukan dukungan faktor yang lebih mendasar. Pemerintah perlu menjaga disiplin APBN, memperjelas arah kebijakan ekonomi, dan mengurangi ketidakpastian yang bisa mengganggu dunia usaha.

Menurut dia, rupiah baru berpeluang menguat lebih konsisten jika tekanan global mereda, harga minyak terkendali, arus modal asing kembali stabil, cadangan devisa tetap kuat, dan persepsi investor terhadap pengelolaan fiskal membaik. Dengan kondisi pasar yang masih rapuh, koordinasi BI dan Kemenkeu kini sedang diuji oleh respons nyata investor di pasar valas maupun saham.

Source: www.suara.com
Exit mobile version