Gejolak geopolitik global di Timur Tengah kembali menguji ketahanan pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, sentimen risiko yang naik membuat aliran modal keluar sempat menguat dan menekan nilai tukar rupiah.
Tekanan itu sempat terlihat jelas pada awal Juni lalu saat rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Pada saat yang sama, pasar saham domestik ikut terkoreksi karena aksi jual investor meningkat mengikuti sentimen global.
Namun, pembalikan arah mulai terlihat di pasar keuangan domestik. Rupiah pulih konsisten ke kisaran Rp17.682 hingga Rp17.708 per dolar AS, sementara IHSG kembali bergerak ke level 6.200 hingga 6.300.
Perbaikan itu tidak terjadi sendiri. Kepercayaan investor global mulai pulih setelah respons cepat lintas otoritas dinilai menunjukkan determinasi kuat dalam menjaga stabilitas nasional.
Bauran kebijakan menjadi penyangga utama
Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,50 persen untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen. Pemerintah juga menjalankan kebijakan fiskal yang lebih terukur agar stabilitas tetap terjaga tanpa mematikan momentum pertumbuhan.
Kombinasi kebijakan moneter dan fiskal itu menjadi penopang penting ketika tekanan eksternal meningkat. Langkah tersebut juga dipandang sebagai cara mencegah inflasi berlebihan sekaligus menjaga kepercayaan pasar.
Penguatan koordinasi itu datang di saat risiko global masih tinggi. Pemerintah dan Bank Indonesia memahami bahwa gejolak internasional tidak bisa dihadapi hanya dengan retorika, tetapi perlu sinergi kebijakan yang kredibel, konsisten, dan responsif.
Langkah di pasar valas dan arus dana
Di pasar valuta asing, Bank Indonesia memperkuat pengelolaan dengan menyesuaikan batas pembelian valuta asing tunai tanpa dokumen pendukung hingga 50 ribu dolar AS per pelaku pasar per bulan. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga stabilitas pasar dan memperkuat ketahanan sektor keuangan.
Di sisi lain, perjanjian dengan China yang dilakukan pekan lalu menambah fleksibilitas likuiditas di dalam negeri. Langkah itu juga dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan yang terlalu tinggi terhadap dolar AS.
Pemerintah turut memperketat aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN dan melanjutkan program hilirisasi komoditas strategis. Arah kebijakan ini dipakai untuk memagari cadangan devisa domestik dan mengurangi gangguan dari rantai pasok global.
Bank Indonesia juga menaikkan struktur imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan. Tujuannya adalah menarik kembali dana global agar masuk ke aset rupiah.
Kepercayaan investor mulai pulih
Efek dari stabilisasi mulai terlihat di pasar pendanaan. Penerbitan global bond perdana Danantara mencatat permintaan yang melampaui target awal.
Minat investor dari Amerika Serikat dan Eropa juga tinggi. Hal itu menunjukkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia masih terjaga meski dinamika global terus menekan.
Bank Indonesia sendiri tetap aktif melakukan intervensi di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward atau DNDF. Langkah itu didukung kepastian regulasi dan insentif fiskal pemerintah untuk menjaga kepercayaan pasar.
Tantangan belum selesai
Meski rupiah menguat dan saham pulih, tantangan ekonomi nasional belum mereda. Agenda transformasi industri, stabilitas harga pangan, dan target pertumbuhan berkelanjutan masih menunggu pengelolaan yang hati-hati.
Koordinasi erat antara pemerintah, Bank Indonesia, dan berbagai otoritas ekonomi menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Di tengah risiko global yang masih bisa berubah cepat, disiplin kebijakan dan penguatan fundamental domestik akan tetap menentukan arah rupiah ke depan.







