PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) mulai memasuki tahap penting menuju pasar modal dengan membuka masa penawaran awal atau book building pada Senin, 22 Juni 2026. Emiten distribusi dan manufaktur alat kesehatan ini membidik dana segar hingga Rp269,27 miliar dari penawaran umum perdana saham yang berpotensi menjadi salah satu aksi korporasi baru di sektor kesehatan.
EMMI menawarkan maksimal 522,86 juta saham baru, setara 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Harga penawaran dipasang di kisaran Rp446 hingga Rp515 per saham, dengan jadwal book building berlangsung sampai 24 Juni 2026.
Dana IPO untuk utang, pabrik, dan modal kerja
Manajemen EMMI menyiapkan penggunaan dana hasil IPO untuk tiga kebutuhan utama. Sekitar Rp50 miliar akan dipakai untuk melunasi sebagian pokok utang di Bank INA, lalu 11,8 persen dialokasikan untuk pembangunan fasilitas pabrik baru anak usaha di Cikupa.
Porsi terbesar, yakni 68,7 persen, akan diarahkan ke modal kerja. Dana itu mencakup pengadaan bahan baku dan persediaan untuk mendukung aktivitas usaha perseroan.
BRI Danareksa Sekuritas dan Ina Sekuritas Indonesia bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek dalam aksi korporasi ini. Jika seluruh saham terserap sesuai target, kapitalisasi pasar EMMI diperkirakan berada di rentang Rp777,4 miliar hingga Rp897,7 miliar.
Dorong kapasitas produksi lokal
Langkah EMMI datang di tengah meningkatnya kebutuhan alat kesehatan nasional. Perseroan melihat peluang untuk memperkuat kapasitas produksi lokal sekaligus mendukung kebijakan substitusi impor pemerintah.
Direktur Utama PT Esa Medika Mandiri, Florian Chris Widjaja, menyebut perusahaan ingin mengambil peran sebagai mitra yang menghadirkan solusi alat kesehatan yang andal dan terintegrasi. Ia menekankan orientasi jangka panjang perusahaan bagi sektor kesehatan nasional.
Perusahaan ini memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di industri alat kesehatan. EMMI juga menerapkan standar Cara Produksi Alat Kesehatan yang Baik atau CPAKB dan Cara Distribusi Alat Kesehatan yang Baik atau CDAKB untuk menjaga keandalan produknya.
Fokus pada layanan jangka panjang
Florian juga menyoroti bahwa kebutuhan pasar alat kesehatan tidak lagi berhenti pada pengadaan produk. Pasar kini menuntut mitra yang bisa memastikan instalasi, pelatihan, pemeliharaan, dan dukungan teknis berjalan konsisten.
Prospektus perseroan menyebutkan EMMI sudah menyiapkan langkah antisipasi jika dana IPO belum mencukupi kebutuhan ekspansi dan operasional. Dalam kondisi itu, perusahaan akan menutup kekurangan melalui kas internal atau pinjaman perbankan.
Setelah IPO dan rencana pencatatan saham pada 8 Juli 2026, struktur kepemilikan para pendiri akan berubah. Nama-nama seperti Surya Gunawan Widjaja, Eddy Lie, Andrew Ignatius Widjaja, Florian Chris Widjaja, dan Andrian Matthew Widjaja akan mengalami penyesuaian porsi kepemilikan.







