Iwan Bule Tegaskan Investasi Terbaik Bangsa, Manusia Jadi Penentu Daya Saing Nasional

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan menegaskan bahwa investasi paling penting bagi Indonesia bukan hanya pada aset fisik atau teknologi, melainkan pada manusia. Ia menyampaikan pandangan itu saat Pertamina dan Kementerian Ketenagakerjaan menandatangani Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama di Jakarta.

Pernyataan tersebut menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai isu strategis di tengah perubahan energi global, kemajuan teknologi yang cepat, dan persaingan ekonomi yang makin ketat. Dalam konteks itu, Pertamina dan Kemnaker memilih fokus pada pelatihan vokasi bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3.

SDM jadi penentu daya saing

Iwan Bule menilai kualitas SDM akan menjadi pembeda utama bagi bangsa yang ingin tetap kompetitif. Ia juga menyebut Pertamina memahami bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh besarnya aset dan kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh manusia yang mengelolanya.

Ia menyampaikan, “investasi terbaik yang dapat dilakukan adalah investasi pada manusia.” Pesan itu sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menempatkan penguatan SDM sebagai prioritas.

Kolaborasi Pertamina dan Kemnaker

Kerja sama Pertamina dan Kemnaker diarahkan untuk membangun SDM unggul yang selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Fokus utamanya ada pada penguatan pelatihan vokasi K3 agar tenaga kerja lebih siap menghadapi kebutuhan industri energi.

Iwan Bule menilai kerja sama ini memiliki makna strategis, bahkan geopolitis. Ia melihat bangsa yang mampu memenangkan persaingan ke depan adalah bangsa yang punya SDM berkualitas dan terus mengasah kompetensi.

Keselamatan kerja dan transformasi perusahaan

Pertamina menegaskan bahwa penguatan kapasitas tenaga kerja menjadi kebutuhan mendesak. Hal ini juga berkaitan dengan peran perusahaan yang semakin besar dalam menjaga ketahanan energi nasional.

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menekankan bahwa keselamatan kerja sangat penting bagi ratusan ribu pekerja Pertamina Group yang beroperasi dari sektor hulu hingga hilir. Ia juga menyebut penguatan kompetensi K3 semakin relevan seiring target peningkatan produksi minyak nasional hingga satu juta barel per hari pada 2029.

Dukungan Kemnaker dan implementasi program

Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menyebut Pertamina sebagai aset strategis bangsa yang perlu terus diperkuat melalui pengembangan SDM dan hubungan industrial yang sehat.

Yassierli juga menyatakan kesiapan Kemnaker untuk mengawal proses restrukturisasi Holding-Subholding di Pertamina. Menurut dia, Kemnaker memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan hubungan industrial, kompetensi SDM, dan future skills yang dibutuhkan dunia kerja.

Sebagai tindak lanjut, Pertamina dan Kemnaker menjalankan dua program utama. Berikut rinciannya:

  1. Training of Trainer (ToT) HSSE Passport untuk instruktur Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas serta balai pelatihan vokasi Kemnaker.
  2. Pelatihan perdana HSSE Passport bagi 250 tenaga kerja mitra Pertamina.

Hingga Juni 2026, program ToT itu sudah digelar di lima kota, yaitu Bekasi, Sidoarjo, Semarang, Medan, dan Serang.

Budaya keselamatan untuk mitra Pertamina

Pelatihan HSSE Passport dirancang agar para instruktur Kemnaker dapat menularkan budaya keselamatan kerja kepada mitra Pertamina. Dengan begitu, lingkungan kerja diharapkan menjadi lebih aman, produktif, dan bertanggung jawab.

Bagi Pertamina, penguatan kompetensi K3 bukan hanya soal kepatuhan prosedur, tetapi bagian dari transformasi perusahaan yang lebih luas. Langkah ini juga menunjukkan bahwa pembangunan SDM unggul memerlukan sinergi nyata antara pemerintah dan dunia usaha agar tenaga kerja Indonesia semakin kompeten dan adaptif.

Source: www.viva.co.id

Terkait