Mesin Pendanaan Kripto Strategy Macet, Kepercayaan Ritel Runtuh dan Harga Bitcoin Tertekan

Kekhawatiran atas mesin pendanaan Bitcoin milik Strategy Inc mulai mengguncang pasar kripto. Tekanan itu memicu penurunan minat terhadap aset digital terbesar di dunia, setelah harga Bitcoin bergerak turun berkepanjangan di bawah US$60.000.

Masalahnya bukan hanya pada harga Bitcoin, tetapi juga pada kepercayaan terhadap cara Strategy mengumpulkan dana untuk terus membeli aset tersebut. Perusahaan selama ini mengandalkan penerbitan efek sekuritas secara berulang, dan kini investor mulai mempertanyakan apakah model itu masih bisa bertahan.

Kepercayaan pasar mulai retak

Strategy sempat menempatkan diri sebagai salah satu pemegang korporasi Bitcoin terbesar lewat strategi akumulasi yang agresif. Namun, Bloombergtechnoz melaporkan bahwa kekhawatiran atas gangguan pada sistem pembelian Bitcoin perusahaan itu kini meluas di pasar.

Keraguan ini muncul saat pasar menilai ulang daya tahan sumber pendanaan perusahaan. Jika investor enggan membeli sekuritas yang diterbitkan, arus dana segar untuk membeli Bitcoin akan ikut terhambat.

STRC jadi titik tekan utama

Perusahaan sebelumnya mempromosikan saham preferen berkode STRC sebagai inovasi besar dengan imbal hasil bulanan tinggi. Produk ini ditujukan bagi investor ritel dan dirancang agar lebih mudah diterima dibanding instrumen yang terpapar volatilitas ekstrem.

Masalah muncul ketika nilai saham preferen itu turun dari harga emisi US$100 menjadi sekitar US$75. Penurunan tersebut menciptakan kerugian besar di atas kertas bagi investor, sementara imbal hasil sekuritas justru melonjak karena minat pembeli menyusut.

Kondisi itu membuat instrumen pendanaan yang menopang akumulasi Bitcoin ikut goyah. Produk STRC sendiri merupakan bagian dari generasi baru sekuritas terkait kripto yang menjanjikan pendapatan stabil.

Risiko struktural makin disorot

Berbeda dari obligasi tradisional, STRC tidak memiliki tanggal jatuh tempo dan tidak memberi hak kepemilikan aset. Pembayaran dividennya juga bisa ditangguhkan sewaktu-waktu oleh dewan direksi perusahaan.

Struktur seperti itu dinilai belum sepenuhnya dipahami investor ritel saat peluncuran. Peringkat kredit B- yang dimiliki perusahaan semakin menegaskan sifat spekulatif dari instrumen tersebut.

Michael Saylor sebelumnya menyebut sekuritas itu mirip rekening tabungan berbunga tinggi jika investor memahami Bitcoin. Sekitar 80% dari instrumen ini dibeli oleh investor ritel, sehingga sentimen pasar ritel menjadi faktor penting bagi keberlanjutan model pendanaan.

Aksi jual Bitcoin ikut terpicu

Alex Blume, pendiri dan CEO Two Prime, menilai perilaku Strategy yang tidak stabil terus membuat pasar cemas dan mengingatkan pada peristiwa krisis besar lain di pasar. Ia juga menyebut kenaikan biaya modal kini mengancam salah satu sumber permintaan Bitcoin paling konsisten di dunia.

Andreja Cobeljic, kepala perdagangan derivatif di Amina Bank, mengatakan penyebab aksi jual Bitcoin adalah kelemahan siklus, tetapi pemicunya adalah tergerusnya kredibilitas strategi Strategy. Penilaian itu sejalan dengan kekhawatiran bahwa pasar mulai melihat ulang fondasi pembiayaan perusahaan.

Sentimen negatif bertambah setelah Strategy mengumumkan penjualan 32 Bitcoin pada awal Juni. Itu menjadi penjualan pertama sejak tahun 2022, dan meski jumlahnya kecil, langkah tersebut dinilai melanggar komitmen jangka panjang untuk tidak menjual aset.

Dampak merembet ke pasar kripto

Perubahan sikap investor tidak berhenti di Strategy. Partisipasi ritel menyusut, sementara ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar bersih hingga US$3 miliar pada Juni.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan pada satu mesin pendanaan korporasi bisa menyebar ke seluruh ekosistem keuangan digital. Selama kepercayaan terhadap model akumulasi Bitcoin berbasis sekuritas terus melemah, pasar tampaknya masih akan sensitif terhadap setiap sinyal gangguan dari Strategy.

Terkait