Rupiah Bangkit ke Rp17.918, Operasi Moneter BI Jadi Penopang Utama

Author: Qoo Media

Rupiah berhasil menutup perdagangan dengan nada lebih kuat setelah sempat tertekan di awal sesi. Pada penutupan Jumat, 26 Juni 2026, mata uang garuda naik 0,04 persen ke Rp17.918 per dolar AS.

Pergerakan itu menunjukkan pasar domestik masih mampu menemukan penopang, meski dolar AS belum sepenuhnya melemah. Indeks greenback turun tipis 0,1 persen ke 101,33, tetapi tetap berada di level yang tinggi.

Dorongan utama datang dari langkah Bank Indonesia yang kembali menggelar operasi moneter lewat lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Aksi ini menjadi stimulus internal yang membantu menahan tekanan pada rupiah di tengah sentimen global yang masih sensitif.

Lelang SRBI dan tekanan biaya operasi

Di lelang SRBI terbaru, total penawaran masuk tercatat turun 33,94 persen menjadi Rp31 triliun. Angka itu lebih rendah dibanding lelang pada Rabu, 24 Juni 2026, yang mencatat penawaran Rp46,92 triliun.

Nilai penyerapan juga menyusut menjadi Rp15 triliun dari sebelumnya Rp18 triliun. Kondisi ini terjadi saat biaya operasi moneter dinilai relatif mahal, sehingga pasar tampak lebih selektif dalam merespons instrumen BI.

Imbal hasil rata-rata tertimbang pemenang untuk tenor 6 bulan turun ke 7,35 persen. Untuk tenor 9 bulan, yield berada di 7,54 persen, sedangkan tenor 12 bulan bergerak stabil di kisaran 7,7 persen.

Pasar obligasi ikut membantu rupiah

Selain operasi moneter BI, pasar surat utang nasional juga memberi dukungan tambahan bagi mata uang domestik. Yield obligasi negara turun hampir di seluruh tenor pada akhir pekan ini.

Yield obligasi tenor 10 tahun turun 1,1 bps menjadi 7,17 persen. Tenor 1 tahun terkoreksi 4,8 bps ke 7,16 persen, tenor 4 tahun turun 12,8 bps ke 7,15 persen, dan tenor 5 tahun melemah 6,9 bps menjadi 7,14 persen.

Penurunan yield biasanya mencerminkan minat yang tetap terjaga di pasar obligasi. Dalam kondisi ini, rupiah memperoleh dukungan dari sentimen aset domestik yang masih relatif menarik.

Arus asing masih masuk

Dari sisi aliran dana, pasar obligasi domestik juga masih mencatat masuknya modal asing. Hingga per 24 Juni, capital inflow mingguan tercatat sebesar 190,8 juta dolar AS.

Masuknya dana asing memberi sinyal bahwa pasar surat utang Indonesia masih dilihat menarik di tengah dinamika global. Kombinasi arus modal itu, operasi SRBI, dan pelemahan tipis dolar AS menjadi faktor yang menjaga rupiah tetap bergerak positif saat penutupan perdagangan.

Terbaru