IHSG Masih Volatil, Dua Pemicunya Ada di Luar dan Dalam Negeri

Pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih cenderung sideways dengan volatilitas yang tinggi. Kondisi itu muncul di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang belum sepenuhnya kondusif.

Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai pasar saham Indonesia masih menunggu katalis baru yang lebih kuat. Di sisi lain, likuiditas perdagangan yang relatif tipis membuat penguatan IHSG belum lepas dari batas yang sempit.

Geopolitik dan The Fed Jadi Penentu

Dari eksternal, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran disebut meningkatkan premi risiko di pasar keuangan. Dampaknya akan makin terasa bila konflik meluas hingga mengganggu pasokan energi dunia melalui Selat Hormuz.

Meski begitu, respons pasar global sejauh ini dinilai masih terukur. Pelaku pasar masih melihat konflik tersebut belum mengganggu aktivitas ekonomi secara luas, sambil menunggu data inflasi Amerika Serikat sebagai acuan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Hendra juga menegaskan bahwa eskalasi geopolitik dan arah kebijakan The Fed akan menjadi dua faktor utama yang menentukan aliran dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Saat ketidakpastian meningkat, investor asing cenderung masuk ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Jika itu terjadi, tekanan pada rupiah bisa bertambah dan arus keluar dana asing dari pasar saham domestik berpotensi naik. Sebaliknya, bila data inflasi AS lebih rendah dan membuka peluang penurunan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan, minat pada aset berisiko bisa kembali membaik.

Fundamental Domestik Masih Menopang

Di dalam negeri, penguatan IHSG masih ditopang fundamental ekonomi yang relatif solid. Harga sejumlah komoditas energi juga masih berada di level yang cukup baik, sehingga membantu emiten berbasis sumber daya alam.

Namun, dukungan itu masih tertahan oleh pelemahan rupiah, aksi jual investor asing yang belum berhenti, rendahnya aktivitas transaksi harian, serta tingginya ketidakpastian global. Kondisi ini membuat investor cenderung berhati-hati untuk menambah eksposur risiko.

Dalam situasi seperti ini, sektor defensif seperti perbankan besar, telekomunikasi, dan barang konsumsi masih dinilai layak menjadi pilihan karena fundamentalnya stabil. Sektor-sektor tersebut juga relatif lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi.

Faktor PenopangFaktor Pemberat
Fundamental ekonomi domestik relatif solidPelemahan rupiah
Harga komoditas energi masih cukup baikAksi jual investor asing
Mendukung emiten berbasis sumber daya alamAktivitas transaksi harian yang rendah
Menopang sektor defensifKetidakpastian global yang tinggi

Strategi Saham di Tengah Volatilitas

Di tengah kondisi pasar yang masih rapuh, sektor energi tetap berpeluang tampil lebih kuat jika ketegangan geopolitik menjaga harga minyak dan energi tetap tinggi. Saham seperti ADRO, PGEO, dan PGAS disebut berpotensi memperoleh sentimen positif dari kondisi tersebut.

TINS juga bisa diuntungkan apabila harga logam kembali menguat. Untuk investor jangka pendek, Hendra menyebut strategi trading buy pada ADRO dengan target harga Rp2.500, PGEO di Rp1.100, PGAS di Rp1.575, serta TINS di Rp3.750.

Meski begitu, ia menekankan perlunya disiplin dalam manajemen risiko. Investor disarankan tetap menerapkan stop loss dan tidak terlalu agresif menambah porsi investasi sampai arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik menjadi lebih jelas.

Dengan likuiditas yang belum solid, pasar masih akan sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi global. Selama belum ada kejutan besar dari geopolitik maupun kebijakan moneter, IHSG diperkirakan tetap bergerak dalam pola konsolidasi sambil menunggu sentimen baru.

Source: mediaindonesia.com
Terkait