Prabowo Minta Pihak Pesimistis Tinggalkan Indonesia, Tapi IKK dan IHSG Masih Tertekan

Presiden Prabowo Subianto kembali mendorong masyarakat untuk tetap optimistis di tengah tekanan ekonomi yang belum mereda. Namun, seruan itu datang saat sejumlah indikator justru menunjukkan pelemahan pada kepercayaan konsumen, pasar saham, dan nilai tukar rupiah.

Dalam pidato pada Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 di Jakarta, Minggu (12/7), Prabowo menegaskan pentingnya persatuan dan kerja sama. Ia bahkan melontarkan pesan keras kepada mereka yang masih meragukan masa depan Indonesia.

“Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah saja. Yang merasa Indonesia suram, silakan cari negara lain. Mari kita bersatu, bergotong royong, dan bekerja sama dengan baik untuk bersama membangun ekonomi Indonesia,” kata Prabowo.

Optimisme di Tengah Sinyal Perlambatan

Pesan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah menjaga kepercayaan publik agar momentum ekonomi nasional tetap terjaga. Tetapi data yang muncul belakangan menunjukkan tantangan yang masih harus dihadapi secara serius.

Survei Konsumen Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei 2026. Penurunan itu menjadi yang ketiga secara beruntun dan menandakan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih melemah.

IndikatorPeriodeAngkaKeterangan
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)Juni 2026117,8Turun dari 120,9 pada Mei 2026
IHSG10 Juli 20265.924,36Terkoreksi sekitar 32,3% YTD
RupiahKisaran perdaganganRp18.113 per dolar ASMasih berada dalam tren pelemahan

Tekanan serupa juga terlihat di pasar modal. IHSG ditutup di level 5.924,36 pada perdagangan 10 Juli 2026, sementara secara year-to-date indeks acuan tersebut masih anjlok sekitar 32,3 persen.

Di pasar valuta asing, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp18.113 per dolar Amerika Serikat. Kondisi itu menunjukkan sentimen terhadap aset keuangan Indonesia masih belum sepenuhnya pulih.

Kepercayaan Publik Jadi Kunci

Di satu sisi, ajakan Prabowo menekankan pentingnya kebersamaan untuk membangun ekonomi Indonesia. Di sisi lain, data dari Bank Indonesia dan pergerakan pasar menunjukkan bahwa pemulihan kepercayaan publik dan pelaku pasar belum berjalan mulus.

www.suara.com mencatat, kondisi seperti ini membuat perbaikan daya beli masyarakat, stabilisasi pasar keuangan, dan penguatan fundamental ekonomi menjadi pekerjaan penting. Faktor-faktor tersebut dinilai krusial agar optimisme yang diserukan pemerintah bisa benar-benar mendapat dukungan dari angka-angka ekonomi yang lebih solid.

Selama tekanan pada IKK, IHSG, dan rupiah masih berlanjut, pesan optimisme pemerintah akan terus diuji oleh realitas pasar dan respons masyarakat. Itulah yang membuat seruan untuk tetap percaya diri tidak cukup berdiri sendiri tanpa perbaikan yang terasa pada ekonomi sehari-hari.

Source: www.suara.com
Terkait