Defisit APBN 2026 Diprediksi Lebih Lebar, Lonjakan Belanja Negara Jadi Sorotan

Defisit APBN 2026 diperkirakan melebar dibanding target awal pemerintah setelah belanja negara tumbuh lebih cepat daripada pendapatan. Proyeksi itu membuat rasio defisit terhadap PDB ikut naik dan mendekati level yang selama ini hanya terlihat saat masa pandemi.

Ekonom Bright Institute Awalil Rizky menilai outlook tersebut menunjukkan tekanan fiskal yang makin nyata. Dalam penjelasannya yang dikutip money.kompas.com, pemerintah mengakui defisit anggaran pada 2026 akan lebih lebar dari rencana semula.

Pendapatan Naik, Tapi Belanja Melaju Lebih Cepat

Pemerintah memprakirakan pendapatan negara 2026 mencapai Rp3.208,1 triliun atau 101,73 persen dari target APBN. Angka itu juga disebut naik 16,02 persen dibanding realisasi 2025.

Awalil menilai capaian tersebut terbilang baik jika proyeksi itu terbukti. Namun, ia mengingatkan bahwa kenaikan itu juga ditopang basis pembanding yang rendah pada tahun sebelumnya atau lowbase effect.

KomponenProyeksi 2026PerbandinganCatatan
Pendapatan negaraRp3.208,1 triliun101,73% dari targetNaik 16,02% dari realisasi 2025
Belanja negaraRp3.942,4 triliun102,95% dari pagu APBNNaik 14,76% dari realisasi 2025
Defisit APBNRp734,3 triliun2,85% dari PDBLebih lebar dari target Rp689,1 triliun

Di sisi belanja, pemerintah memproyeksikan realisasi belanja negara 2026 mencapai Rp3.942,4 triliun. Menurut Awalil, nilai itu setara 102,95 persen dari pagu APBN dan menjadi kenaikan tertinggi dalam 15 tahun terakhir jika proyeksi tersebut benar terjadi.

Defisit Melebar, Rasio Kembali Naik

Karena belanja tumbuh lebih cepat daripada pendapatan, defisit APBN 2026 diperkirakan mencapai Rp734,3 triliun. Angka itu lebih besar dari rencana APBN sebesar Rp689,1 triliun dan mendorong rasio defisit terhadap PDB menjadi 2,85 persen.

Rasio tersebut juga lebih tinggi daripada target awal pemerintah yang sebesar 2,68 persen. Awalil menyebut posisi itu menjadi rasio tertinggi, kecuali pada masa pandemi tahun 2020 dan 2021.

Ia juga membandingkan tren beberapa periode pemerintahan. Pada era SBY, rata-rata rasio defisit atas PDB hanya 1,19 persen, sementara pada era Jokowi pertama naik menjadi 2,32 persen.

Perbandingan Antar-Periode Pemerintahan

PeriodeRata-rata Defisit/PDBCatatan
Era SBY1,19%Rata-rata paling rendah dalam perbandingan Awalil
Jokowi pertama (2015-2019)2,32%Meningkat dibanding era SBY
Era Prabowo, tahun pertama2,81%Langsung tinggi sejak awal masa pemerintahan
Prakiraan 20262,85%Lebih tinggi dari tahun pertama era Prabowo

Untuk belanja negara, Awalil mencatat pola yang serupa. Ia menyebut kenaikan rata-rata per tahun pada era SBY mencapai 15,79 persen dan era Jokowi sebesar 6,64 persen, sementara tahun pertama era Prabowo hanya naik 2,25 persen.

Namun, proyeksi 2026 menunjukkan lonjakan belanja hingga 14,76 persen dibanding realisasi 2025. Awalil menilai lonjakan itu jauh lebih tinggi dibanding tahun pertama pemerintahannya dan menjadi faktor utama yang mendorong defisit melebar.

Dengan kombinasi pendapatan yang masih tumbuh dan belanja yang naik lebih cepat, APBN 2026 diproyeksikan bergerak ke arah defisit yang lebih besar dari target. Pemerintah sendiri telah menyampaikan laporan pelaksanaan APBN Semester I Tahun Anggaran 2026 kepada DPR, termasuk prakiraan realisasi sampai akhir tahun.

Source: money.kompas.com
Terkait