Rupiah yang kembali melemah mendekati Rp18.000 per dolar AS membuat pasar mulai membaca peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. Namun, ruang BI untuk menambah pengetatan kini dinilai semakin sempit karena bank sentral harus menjaga dua hal sekaligus: stabilitas nilai tukar dan laju pemulihan ekonomi.
Ekonom Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai BI masih punya ruang untuk menaikkan BI-Rate jika tekanan rupiah berlanjut. Tetapi, langkah itu tidak bisa agresif karena berisiko menekan sektor riil dan mengganggu fungsi intermediasi perbankan.
Tekanan rupiah belum tentu dijawab dengan bunga lebih tinggi
Trioksa menegaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan hanya layak dipertimbangkan jika pelemahan rupiah terus terjadi dan mulai memunculkan tekanan lanjutan seperti inflasi yang perlu diintervensi, arus modal keluar, serta gangguan terhadap stabilitas sistem keuangan. Ia menyampaikan pandangan itu kepada Bisnis pada Senin (13/7/2026).
Menurut dia, BI perlu lebih dulu menilai sumber tekanan rupiah. Jika pelemahan terutama dipicu faktor eksternal, seperti penguatan dolar AS dan sentimen global, maka kenaikan suku bunga tidak otomatis menjadi jawaban yang paling efektif.
| Faktor yang Perlu Dicermati BI | Implikasi |
|---|---|
| Penguatan dolar AS | Tekanan rupiah datang dari eksternal |
| Sentimen global | Kenaikan bunga belum tentu efektif |
| Fundamental domestik | BI bisa lebih relevan memakai instrumen moneter |
Trioksa menilai pengetatan moneter baru akan kuat dampaknya jika sumber tekanan memang berasal dari sisi moneter domestik. Karena itu, BI perlu membedakan apakah pelemahan rupiah bersifat sementara akibat pasar global atau sudah mencerminkan masalah yang lebih dalam.
Bauran kebijakan masih jadi andalan
Sebelum memilih opsi kenaikan BI-Rate, BI disebut masih bisa mengoptimalkan bauran kebijakan. Langkah itu mencakup intervensi di pasar valuta asing, optimalisasi instrumen likuiditas, dan koordinasi dengan kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah kembali mencuat di tengah dinamika pasar global dan penguatan dolar AS. Kondisi ini membuat pasar kembali mencermati arah kebijakan BI setelah sebelumnya bank sentral sudah menyesuaikan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi.
Dampak ke bank dan kredit bisa terasa cepat
Jika BI akhirnya kembali menaikkan BI-Rate, efeknya diperkirakan langsung terasa di industri perbankan. Biaya dana berpotensi naik, suku bunga kredit akan menyesuaikan bertahap, dan margin bunga bank bisa tertekan dalam jangka pendek.
| Dampak Kenaikan BI-Rate | Efek Utama |
|---|---|
| Biaya dana perbankan | Meningkat |
| Suku bunga kredit | Naik bertahap |
| Margin bunga | Tertekan dalam jangka pendek |
| Permintaan kredit | Berpotensi melambat |
Trioksa menyebut segmen yang paling sensitif terhadap bunga, seperti UMKM, konsumsi, dan korporasi, bisa lebih dulu merasakan penurunan permintaan kredit. Karena itu, menurut dia, kebijakan pengetatan moneter harus dilakukan terukur agar tidak mengorbankan pertumbuhan kredit yang masih menjadi salah satu penopang pemulihan ekonomi.
Ia juga menilai transmisi kenaikan suku bunga acuan akan memengaruhi strategi penyaluran kredit bank. Dalam pandangannya, BI perlu menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan momentum intermediasi perbankan dan pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.
