Pergerakan IHSG pada awal pekan diperkirakan masih berpeluang menguat terbatas setelah ditutup melonjak 1,10 persen ke level 6.176 pada perdagangan Jumat pekan sebelumnya. Investor ritel dapat mencermati enam saham dari sektor energi dan telekomunikasi yang memperoleh rekomendasi analis.
Analis teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menempatkan area support IHSG di level 6.137 dan resistance di level 6.200 untuk perdagangan Senin, 20 Juli 2026. Menurutnya, penguatan indeks masih berpotensi terjadi secara terbatas di tengah sejumlah sentimen pasar.
Musim rilis laporan keuangan semester I-2026 menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar. Selain itu, nilai tukar rupiah yang diperkirakan masih berpeluang menguat dalam jangka pendek serta pergerakan harga komoditas energi ikut menjadi faktor yang dipantau.
Ringkasan Saham yang Direkomendasikan
| No. | Saham | Rekomendasi | Target Harga |
|---|---|---|---|
| 1 | ADRO | Cermati | Rp 2.550-Rp 2.600 |
| 2 | ESSA | Cermati | Rp 625-Rp 645 |
| 3 | ITMG | Cermati | Rp 24.500-Rp 24.950 |
| 4 | TLKM | Buy | Rp 3.950 |
| 5 | EXCL | Buy | Rp 3.600 |
| 6 | ISAT | Add | Rp 2.540 |
1. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
ADRO masuk daftar saham energi yang direkomendasikan Herditya untuk dicermati pada awal pekan. Target harga yang dipasang berada pada kisaran Rp 2.550 hingga Rp 2.600.
Perhatian terhadap saham energi berkaitan dengan dinamika harga komoditas global yang masih menjadi salah satu sentimen bagi pasar. Karena itu, arah pergerakan komoditas dapat ikut memengaruhi kinerja saham-saham di sektor terkait.
2. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA)
ESSA juga menjadi pilihan saham yang dapat diperhatikan investor ritel menurut Herditya. Target harga saham ini berada di rentang Rp 625 sampai Rp 645.
Rekomendasi tersebut hadir ketika pasar memantau sejumlah katalis, termasuk laporan kinerja emiten semester pertama tahun 2026. Perubahan sentimen terhadap komoditas energi juga menjadi konteks penting bagi saham energi.
3. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)
Untuk ITMG, Herditya menetapkan kisaran target harga Rp 24.500 hingga Rp 24.950. Saham ini melengkapi tiga pilihan sektor energi yang disoroti dalam proyeksi perdagangan awal pekan.
money.kompas.com melaporkan bahwa pasar masih mencermati pergerakan harga komoditas dunia, khususnya energi. Sentimen tersebut dapat menjadi salah satu penentu bagi saham emiten yang memiliki keterkaitan dengan sektor komoditas.
4. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
TLKM direkomendasikan buy oleh Equity Research Analyst PT Binaartha Sekuritas Eka Rahmawati Rahman dengan target harga Rp 3.950. Rekomendasi ini mengikuti langkah perseroan yang telah menyelesaikan target perampingan 10 anak usaha pada semester I-2026.
Dalam proses tersebut, TLKM telah merampungkan divestasi AdMedika dan TelkoMedika pada Juni 2026. Perseroan juga melanjutkan pencarian mitra strategis untuk bisnis pusat data, dengan pihak asing dalam daftar pendek berpotensi mengakuisisi hingga 70 persen bisnis tersebut.
Target penyelesaian transaksi bisnis pusat data itu disebut berada pada akhir tahun. Langkah restrukturisasi TLKM merupakan bagian dari komitmen mendukung restrukturisasi BUMN yang dipimpin Danantara Asset Management dan Badan Pengaturan BUMN.
5. PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL)
Maybank Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk EXCL dengan target harga Rp 3.600. Analis Maybank Sekuritas Etta Rusdiana Putra menilai transformasi bisnis perseroan berada di jalur yang tepat melalui pemanfaatan tambahan spektrum untuk memperluas jaringan 5G.
Ekspansi jaringan dilakukan bertahap dari satu kota ke kota lain dan dinilai dapat memperkuat daya saing perseroan. Faktor musiman pada pendapatan serta perlambatan beban penyusutan diperkirakan membuat rugi bersih EXCL menyempit menjadi sekitar Rp 182 miliar pada kuartal II-2026.
Persaingan industri dinilai masih sehat dengan jumlah pelanggan EXCL diperkirakan sekitar 69,7 juta. Average revenue per user atau ARPU diproyeksikan mencapai Rp 48.000 pada kuartal II-2026.
6. PT Indosat Tbk (ISAT)
CGS International Sekuritas merekomendasikan add untuk ISAT dengan target harga Rp 2.540. Pada 2 Juli 2026, perseroan menyelesaikan monetisasi aset fiber melalui penjualan 84,9 persen saham PT Infra Fiber Teknologi kepada PT Nusantara Fiber Teknologi.
ISAT menerima dana tunai Rp 11,7 triliun dari transaksi tersebut, sedangkan sisa 15,1 persen saham Infra Fiber Teknologi disetorkan sebagai penyertaan non-tunai sebagai imbalan saham PT Nusantara Fiber Teknologi senilai Rp 2,1 triliun. Research Analyst CGS International Sekuritas Bob Setiadi menilai ISAT dapat memperoleh manfaat dari belanja modal infrastruktur yang lebih rendah dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
Potensi peningkatan utilisasi jaringan fiber juga terbuka apabila PT Nusantara Fiber Teknologi berhasil menarik penyewa dari pihak ketiga. Meski manajemen pernah menyampaikan EBITDA berulang berpotensi menurun setelah dekonsolidasi, dampak terhadap EBIT diperkirakan lebih besar seiring penerapan metode akuntansi sewa pembiayaan.
Rekomendasi pada saham telekomunikasi dan energi tersebut tetap perlu dipertimbangkan bersama riset mandiri, kondisi pasar, serta profil risiko masing-masing investor. Keputusan membeli atau menjual saham sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor.
Source: money.kompas.com






