Lampung Raya disiapkan memiliki fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik dengan kapasitas sekitar 1.167 ton per hari. Proyek ini memasuki tahap baru setelah konsorsium Bumi Biru Indonesia ditetapkan sebagai mitra terpilih.
Penetapan tersebut berlangsung dalam proses Partner Selection Batch-2 yang diselenggarakan Danantara Indonesia. Pengembangan PSEL Lampung Raya menjadi bagian dari upaya mempercepat hadirnya fasilitas pengelolaan sampah modern di berbagai daerah.
Konsorsium Bumi Biru Indonesia Terpilih
Konsorsium Bumi Biru Indonesia terdiri atas SUS Environment Inc dan PT Indoplas Dewata Energi. PT Indoplas Dewata Energi merupakan anak usaha PT Maharaksa Biru Energi Tbk atau OASA.
OASA menyampaikan bahwa konsorsium tersebut telah berstatus Selected Partner untuk pengembangan proyek di Lampung Raya. Status itu menempatkan proyek tersebut dalam pengembangan Waste-to-Energy Batch-2.
| Proyek | Perkembangan | Informasi Utama |
|---|---|---|
| PSEL Lampung Raya | Konsorsium Bumi Biru Indonesia ditetapkan sebagai Selected Partner | Dirancang mengolah sekitar 1.167 ton sampah per hari |
| PSEL Tangerang Selatan | Proses pengembangan terus disesuaikan | Penyesuaian mengikuti implementasi Perpres Nomor 109 Tahun 2025 |
Kapasitas 1.167 ton per hari menunjukkan skala pengolahan yang dirancang untuk proyek Lampung Raya. Fasilitas ini ditujukan menjadi salah satu bagian dari pembangunan infrastruktur lingkungan sekaligus pengembangan energi dari sampah.
Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan
Direktur Utama PT Maharaksa Biru Energi Tbk, Bobby Gafur Umar, menilai pengembangan Waste-to-Energy membutuhkan kerja sama luas. Pemerintah, sektor swasta, mitra teknologi, dan pemangku kepentingan lain disebut perlu terlibat agar manfaat proyek dapat dirasakan masyarakat.
Dalam keterangannya pada Selasa (21/7/2026), Bobby mengatakan perkembangan proyek Lampung Raya merupakan bagian dari upaya mempercepat pembangunan fasilitas Waste-to-Energy di Indonesia. Ia menekankan komitmen OASA dalam mendukung solusi pengelolaan sampah yang lebih modern.
“OASA berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan proyek-proyek yang tidak hanya menghasilkan solusi pengelolaan sampah yang lebih modern, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap transisi energi, pengurangan emisi, dan pembangunan yang berkelanjutan,” kata Bobby.
Menurut laporan finance.detik.com, perkembangan di Lampung Raya turut melengkapi portofolio Waste-to-Energy OASA yang terus berkembang di sejumlah wilayah Indonesia. Perusahaan tersebut juga masih menjalankan langkah pengembangan proyek lain di Tangerang Selatan.
Penyesuaian Proyek di Tangerang Selatan
Pada proyek PSEL Tangerang Selatan, OASA melanjutkan penyesuaian pengembangan sesuai implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Langkah itu dilakukan dalam masa transisi menuju skema pengembangan yang selaras dengan kebijakan pemerintah.
Penyesuaian tersebut juga dimaksudkan untuk memperkuat landasan pengembangan proyek pada tahap berikutnya. OASA menilai kebijakan percepatan pembangunan fasilitas Waste-to-Energy nasional menjadi konteks penting bagi pengembangan proyek ini.
Bobby menyatakan perusahaan akan menjaga disiplin pelaksanaan proyek dan memperkuat kemitraan strategis. Langkah itu disebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pertumbuhan berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan.
Dengan kapasitas yang dirancang mencapai 1.167 ton sampah per hari, proyek Lampung Raya menjadi salah satu agenda penting dalam portofolio pengolahan sampah menjadi listrik OASA. Tahap kemitraan yang telah dicapai membuka jalan bagi kelanjutan pengembangan fasilitas tersebut.
Source: finance.detik.com






