B50 Mulai Diterapkan, Bahlil Jawab Pesimisme dengan Potensi Pangkas Impor Minyak

Penerapan biodiesel B50 menjadi langkah besar Indonesia untuk menekan ketergantungan pada energi impor. Program campuran 50 persen minyak sawit dalam solar ini disebut dapat memangkas impor minyak setara hampir 250 ribu hingga 300 ribu barel per hari.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menilai keraguan terhadap B50 kini telah dijawab oleh kemampuan Indonesia mengolah sumber daya sawitnya. Pemerintah mulai memberlakukan B50 pada 1 Juli 2026 sebagai bagian dari instrumen menuju target net zero emission.

Menjawab Keraguan terhadap B50

Bahlil mengatakan program tersebut sempat dipandang pesimistis oleh sejumlah pihak sebelum resmi dijalankan. Dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit di JICC Senayan, Jakarta, Selasa (21/7/2026), ia mempertanyakan alasan anggapan bahwa kebijakan itu mustahil diterapkan.

“Kemarin kita meresmikan B50, B50 itu awalnya banyak juga yang pesimis, ada orang mengatakan ini gak mungkin, saya katakan apa yang tidak mungkin?” kata Bahlil. Menurut dia, posisi Indonesia sebagai eksportir crude palm oil atau CPO terbesar dunia menjadi modal utama untuk menjalankan kebijakan tersebut.

Penggunaan minyak sawit sebagai bahan campuran biodiesel dipandang memberi ruang bagi Indonesia untuk mengurangi pembelian energi dari luar negeri. B50 juga ditempatkan pemerintah dalam strategi yang lebih luas untuk memperkuat ketahanan pasokan energi domestik.

AspekData yang Disampaikan
Mulai penerapan B501 Juli 2026
Campuran biodiesel50 persen minyak sawit
Potensi pengurangan imporHampir 250 ribu–300 ribu barel per hari
Konsumsi solar nasional39 juta kiloliter
Impor crude tersisaSekitar 700 ribu–750 ribu barel per hari

Bahlil menjelaskan penghematan impor itu penting di tengah kebutuhan solar nasional yang mencapai 39 juta kiloliter. Ia menyebut Indonesia masih mengimpor crude sekitar 700 ribu sampai 750 ribu barel per hari dari selisih kebutuhan sekitar 1 juta barel per hari.

Karena itu, pengembangan biodiesel B50 tidak hanya dilihat sebagai kebijakan bahan bakar alternatif. Pemerintah mengaitkannya dengan upaya mengurangi emisi karbon sekaligus menekan tekanan impor minyak.

Dari B2,5 hingga Mandatori B50

Program biodiesel nasional bukan kebijakan yang dibangun dalam waktu singkat. Presiden Prabowo menyebut pengembangannya dimulai dari penerapan B2,5 pada 2008 dan berkembang melalui delapan tahapan hingga mencapai B50.

Prabowo mengatakan peluncuran B50 menjadi tonggak pemanfaatan sumber daya alam nasional untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Ia juga menegaskan Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50.

Menurut Prabowo, pemerintah sempat mempertimbangkan langkah yang lebih jauh dengan mendorong pengembangan biodiesel hingga B100. Gagasan itu muncul dari dorongan untuk mempercepat pencapaian kemandirian energi.

Namun, kajian para menteri di sektor energi menilai B50 telah cukup untuk menghapus kebutuhan impor solar dari luar negeri. Pertimbangan teknis tersebut kemudian menjadi dasar penerapan mandatori pada level 50 persen.

“Saya dorong, saya menuntut dari tim saya kemandirian energi. B40 tidak cukup,” ujar Prabowo. Ia menambahkan bahwa dirinya pada saat itu bahkan mendorong pengembangan ke arah B100.

Prabowo mengatakan para menterinya kemudian menyampaikan bahwa B50 sudah memungkinkan Indonesia berhenti mengimpor solar. “Pak, dengan B50 saja kita sudah tidak impor solar lagi dari luar negeri. Jadi, ini adalah satu prestasi bangsa yang luar biasa,” ujarnya.

Instrumen Kemandirian Energi

Pernyataan Bahlil dan Prabowo menunjukkan B50 diposisikan sebagai kebijakan dengan dua tujuan sekaligus, yaitu pengurangan impor dan penurunan emisi. Ketersediaan CPO dalam negeri menjadi faktor yang membuat strategi ini dinilai dapat dijalankan.

Data dan pernyataan mengenai B50 tersebut disampaikan dalam pemberitaan www.liputan6.com. Dengan konsumsi solar yang besar dan impor crude yang masih tersisa, program ini menjadi bagian penting dari agenda kemandirian energi Indonesia.

Bagi pemerintah, capaian B50 juga menandai perkembangan panjang kebijakan biodiesel dari campuran rendah menuju mandatori yang lebih tinggi. Tantangan berikutnya tetap berada pada pengelolaan kebutuhan energi nasional dan pengurangan ketergantungan terhadap pasokan minyak dari luar negeri.

Source: www.liputan6.com
Terkait