Berkecamuknya perang antara Iran dan Israel serta ketidakpastian yang melanda kondisi ekonomi global telah menjadikan emas sebagai salah satu instrumen investasi yang sangat menarik. Ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah ini mendorong para investor untuk mencari aset yang dianggap lebih aman, dan emas menjadi pilihan utama di tengah situasi yang volatile.
Djoko Soelistyo, Kepala Produk Investasi dan Konsultasi di PT Bank DBS Indonesia, menekankan bahwa minat terhadap investasi emas meningkat secara signifikan. Dalam sebuah diskusi yang diadakan di Jakarta, ia mengungkapkan, "Saat ini, banyak orang beralih untuk membeli emas sebagai bentuk investasi. Di Indonesia, emas memang sudah lama menjadi pilihan populer, dan keadaan sekarang semakin mendorong orang untuk melakukannya."
Ketidakpastian Ekonomi Global
Ketidakpastian ekonomi, yang ditambah dengan ketegangan geopolitik, memang mempengaruhi pola investasi. Emas, yang dikenal sebagai aset lindung nilai, menjadi semakin diminati oleh para investor. Djoko menambahkan, "Emas adalah pilihan yang bijak saat menghadapi ketidakpastian, dan ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang kini mulai berinvestasi di dalamnya."
Namun, emas bukan satu-satunya instrumen investasi yang layak dipertimbangkan. Dalam situasi ini, berbagai pilihan lain juga bisa diambil untuk mengatasi volatilitas pasar.
Obligasi dan Reksa Dana
Salah satu alternatif yang disarankan Djoko adalah obligasi. Instrumen investasi ini dianggap aman dan cocok untuk investor pemula. Rata-rata imbal hasil dari investasi obligasi bisa mencapai 6,8 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun. Selain itu, perubahan tarif pajak penghasilan (PPh) atas bunga obligasi yang telah diturunkan menjadi 10 persen dari sebelumnya 15 persen juga membuat obligasi semakin menarik. "Pertumbuhan populeritas obligasi syariah di kalangan perbankan juga menarik perhatian banyak orang untuk berinvestasi," ujarnya.
Reksa dana juga dijadikan pilihan lain karena dikelola oleh manajer investasi profesional dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Meskipun demikian, Djoko mengingatkan bahwa semua bentuk investasi memiliki risiko tersendiri. "Penting bagi masyarakat untuk bijak dalam memilih investasi yang sesuai dengan tujuan finansial mereka," katanya.
Dampak Perang Iran-Israel Terhadap Harga Emas
Ketegangan geopolitik yang terus meningkat akibat perang antara Iran dan Israel juga memiliki dampak signifikan terhadap harga emas. Pada 19 Juni 2025, harga emas PT Antam tercatat Rp 1.937.000 per gram, meski mengalami penurunan sebesar Rp 6.000 dibandingkan hari sebelumnya. Namun, meskipun ada penurunan ini, minat terhadap emas tetap tinggi, menunjukkan bahwa faktor geopolitik memainkan peran penting dalam menentukan harga logam mulia ini.
Data terbaru dari pasar emas juga menunjukkan bahwa harga emas spot mengalami penurunan mencapai 0,4 persen menjadi USD 3.374,75 per ons, sementara kontrak emas berjangka AS justru mengalami kenaikan tipis. Hal ini menunjukkan adanya fluktuasi yang berlawanan di pasar yang sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan politik global.
Rekomendasi dan Strategi Investor
Dalam menghadapi situasi ini, investor diimbau untuk mempertimbangkan beberapa strategi. Diversifikasi dalam investasi menjadi kunci untuk mengurangi risiko. Selain emas, obligasi dan reksa dana juga sangat direkomendasikan, terutama untuk pemula. Masyarakat dapat menggunakan momen ini untuk belajar tentang berbagai jenis investasi dan memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
Ketegangan yang terus berlangsung dalam hubungan Iran dan Israel serta pernyataan-pernyataan dari pihak berwenang, seperti Donald Trump yang menyatakan keinginan untuk berdialog, mengisyaratkan kemungkinan perubahan dalam dinamika pasar. Para investor perlu tetap waspada dan siap untuk menyesuaikan strategi mereka sesuai dengan perubahan yang terjadi.





