Strategi ADMF dan CNAF Penuhi Peluang Pasar Multifinance di Timur Indonesia

Shopee Flash Sale

Kawasan Timur Indonesia menjadi fokus utama bagi PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (ADMF) dan PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) dalam mengembangkan pasar multifinance. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan industri multifinance di wilayah ini mencapai Rp59,78 triliun pada kuartal I/2025, meskipun menguasai hanya 11,1% dari total pembiayaan. Namun, pertumbuhan tahunan atau year on year (YoY) di kawasan ini mencatat angka 7,4%, lebih tinggi ketimbang pertumbuhan 5% di Pulau Jawa.

ADMF, melalui Chief of Financial Officer-nya, Sylvanus Gani, mengungkapkan bahwa perusahaan melihat potensi besar di Indonesia Timur. Dia menjelaskan bahwa strategi yang akan diterapkan mencakup memperkuat jaringan distribusi dan meningkatkan pelayanan. Selain itu, kolaborasi dengan dealer dan mitra strategis di daerah setempat juga akan diperluas. “Kawasan Timur Indonesia menjadi sumber pertumbuhan baru jangka menengah dan panjang bagi kami,” jelas Gani.

Dalam periode Januari-Mei 2025, ADMF berhasil menyalurkan total pembiayaan baru Rp6,5 triliun, di mana kontribusi dari luar Pulau Jawa mencapai 50%. Dari angka itu, Kawasan Timur menyumbang Rp1,8 triliun, sekitar 13% dari total portofolio perusahaan. Hal ini menunjukan bahwa meski kontribusinya masih terbatas, potensi pertumbuhan cukup menjanjikan.

Di sisi lain, CNAF juga melihat peluang signifikan di kawasan ini. Saat ini, portofolio pembiayaan CNAF di Indonesia Timur mencapai Rp2,69 triliun, dengan pertumbuhan 29% dibandingkan tahun lalu. Dalam konteks yang lebih luas, portofolio terbesar CNAF masih berada di Pulau Jawa, yaitu Rp9,52 triliun, tetapi pertumbuhannya lebih lambat, yakni 13%.

Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman, menegaskan bahwa potensi pasar di Indonesia Timur dapat dimaksimalkan dengan menjalin kerja sama yang lebih erat dengan dealer dan showroom di daerah tersebut. “Potensi yang ada di Indonesia Timur sangat besar dan bisa menjadi pendorong pertumbuhan pembiayaan,” katanya.

Meskipun demikian, baik ADMF maupun CNAF mengakui bahwa pertumbuhan di Indonesia Timur tidak akan cukup untuk mengatasi perlambatan yang terjadi di wilayah Sumatera dan Jawa. Keduanya sepakat bahwa pasar di kota-kota besar masih menjadi penggerak utama, sementara Indonesia Timur lebih berfungsi sebagai pasar alternatif yang potensial dalam jangka panjang.

Data OJK menunjukkan bahwa pertumbuhan pembiayaan multifinance di Papua Selatan di periode Januari-April 2024 mencapai 86,39% YoY, melampaui rata-rata nasional 3,67%. Angka ini memperjelas bagaimana beberapa daerah di Indonesia Timur mempunyai potensi pertumbuhan yang signifikan, meskipun secara keseluruhan masih terdampak oleh dominasi Pulau Jawa.

Kombinasi dari strategi dan peluang ini mengarah pada optimisme kedua perusahaan untuk mengembangkan pasar multifinance di Indonesia Timur. Dengan terus mengembangkan infrastruktur dan kemitraan lokal, baik ADMF maupun CNAF berharap dapat memanfaatkan momentum pertumbuhan ini untuk meningkatkan pangsa pasar mereka.

Dalam konteks lebih luas, industri multifinance di Indonesia berada dalam fase penting. Meskipun ada tantangan, fokus pada pengembangan kawasan Timur menunjukkan bahwa ada upaya untuk mendiversifikasi basis pelanggan. Oleh karena itu, kedua perusahaan ini dapat menjadi contoh bagaimana sektor keuangan dapat beradaptasi dan mengeksplorasi peluang di wilayah yang mungkin belum sepenuhnya terlayani sebelumnya.

Berita Terkait

Back to top button