Pertumbuhan jumlah uang beredar (M2) di Indonesia mencapai Rp9.406,6 triliun pada Mei 2025, mencerminkan kondisi likuiditas perekonomian yang terjaga. Data ini menunjukkan peningkatan sebesar 4,9% secara tahunan (YoY), yang menunjukkan stabilitas dan optimisme dalam sektor ekonomi. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede menekankan bahwa data ini mengindikasikan likuiditas yang sehat dan mendukung pemulihan ekonomi.
Peningkatan jumlah uang beredar didorong oleh pertumbuhan penyaluran kredit yang mencapai 8,1% (YoY). Meskipun sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 8,5%, angka ini menunjukkan bahwa sektor riil mulai aktif kembali. Josua menjelaskan, "Penyaluran kredit yang tinggi menunjukkan bahwa pelaku usaha dan masyarakat kembali aktif berinvestasi dan berkonsumsi." Hal ini sangat penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Konsumsi dan Daya Beli Masyarakat
Dari segi konsumsi, survei penjualan eceran menunjukkan hasil yang positif. Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Mei 2025 diperkirakan tumbuh 2,6% YoY, terutama dipengaruhi oleh belanja barang budaya, rekreasi, serta makanan dan minuman. Ini menunjukkan adanya pemulihan daya beli masyarakat yang semakin meningkat.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga mencerminkan optimisme yang masih terjaga di kalangan konsumen, meskipun sedikit menurun dari bulan sebelumnya. Angka IKK mencapai 117,5, menandakan ekspektasi positif masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan mendatang. Namun, ada tantangan yang perlu diperhatikan, yaitu persepsi negatif konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja. Skor indeks mengenai hal ini berada di angka 95,7, yang menunjukkan ketidakmerataan dalam pemulihan ekonomi antara berbagai sektor.
Komponen Uang Beredar
Dalam analisis lebih mendalam, komponen M2 terdiri dari uang beredar dalam arti sempit (M1) yang mencapai Rp5.226,3 triliun, tumbuh 6,3% YoY. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan giro rupiah dan uang kartal yang mencapai Rp1.033,6 triliun, dengan pertumbuhan 10,7% YoY. Di sisi lain, uang kuasi, yang mencakup tabungan, meningkat 1,5% menjadi Rp4.077,3 triliun, didorong oleh tabungan yang naik 9,4%. Namun, giro valas mengalami kontraksi sebesar 2,9%.
Uang Primer (M0) juga mencatatkan kenaikan, mencapai Rp1.939,1 triliun, meningkat 14,5% dibandingkan Mei 2024. Ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang lebih akomodatif mungkin telah membantu memperkuat likuiditas dalam perekonomian.
Kewaspadaan Terhadap Inflasi
Meskipun data menunjukkan tren positif, Josua mengingatkan bahwa pengelolaan kebijakan moneter dan fiskal yang hati-hati tetap diperlukan. Ini bertujuan untuk memastikan bahwa peningkatan likuiditas ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan tanpa menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan. "Penting untuk memantau kondisi ini secara seksama agar ekonomi dapat terus tumbuh dengan stabil dan berkelanjutan," tuturnya.
Ke depan, perhatian harus tetap tertuju pada ketersediaan lapangan kerja dan ketidakmerataan pemulihan ekonomi. Ini menjadi tantangan bagi otoritas kebijakan dalam memberikan solusi yang seimbang agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi dalam angka, tetapi juga mencerminkan perbaikan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Dalam konteks ini, keberlanjutan pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada bagaimana semua faktor ini dikelola dan dioptimalkan. Kebijakan proaktif yang tepat bisa menjadi kunci dalam memastikan bahwa setiap lapisan masyarakat dapat merasakan dampak positif dari pertumbuhan ekonomi tersebut.







