Belakangan ini, fenomena yang dikenal sebagai doom spending menjadi perbincangan hangat di kalangan generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z. Doom spending merujuk pada kebiasaan belanja impulsif yang sering kali dilakukan sebagai cara untuk meredakan stres, kecemasan, atau tekanan akibat ketidakpastian masa depan. Dorongan ini semakin menguat berkat pengaruh media sosial yang memamerkan gaya hidup glamor, sehingga banyak anak muda memilih belanja sebagai pelarian emosional. Kondisi ini dapat membahayakan stabilitas keuangan jangka panjang jika tidak diimbangi dengan perencanaan yang tepat.
Ahli keuangan Fandi Murdani dari Sequis Quality Builder menegaskan bahwa meskipun menghentikan doom spending terdengar menakutkan, hal itu bukan berarti harus mengorbankan kebahagiaan. “Perilaku ini justru dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan keuangan. Mengatur keuangan dengan bijak adalah kunci untuk menikmati hidup tanpa merasa cemas tentang masa depan,” katanya dalam keterangan resmi.
Langkah Cerdas Menghindari Doom Spending
Ada beberapa cara praktis yang bisa dilakukan generasi muda untuk menghindari jebakan doom spending:
1. Ganti Belanja dengan Aktivitas Positif
Alih-alih segera mengakses aplikasi belanja saat stres, cobalah untuk beralih ke aktivitas yang lebih positif. Aktivitas seperti meditasi, olahraga, atau hobi dapat memberikan rasa bahagia yang lebih berkelanjutan.
2. Rencanakan Keuangan dengan Rumus 40-30-20-10
Fandi merekomendasikan agar generasi muda menyusun pengeluaran mereka berdasarkan prioritas. Salah satu rumus sederhana adalah 40 persen untuk kebutuhan sehari-hari, 30 persen untuk utang, 20 persen untuk tabungan atau investasi, dan 10 persen untuk donasi. Dengan pengaturan ini, kamu masih bisa menikmati hobi tanpa menguras rekening.
3. Sediakan Dana Darurat
Keberadaan dana darurat sangat penting untuk menghadapi kondisi tak terduga. Fandi menyarankan untuk mengalokasikan 10-20 persen dari pendapatan sebagai dana darurat, sehingga saat situasi darurat muncul, kamu tidak perlu berutang.
4. Pentingnya Asuransi
Jangan skeptis terhadap asuransi. Memiliki asuransi kesehatan dan jiwa menjadi bagian penting dalam perencanaan keuangan yang dapat melindungi diri dari risiko finansial yang tidak terduga.
5. Investasi Sejak Dini
Daripada tergoda untuk belanja impulsif, lebih baik mulai berinvestasi. Berinvestasi di instrumen seperti deposito, reksa dana, atau saham bisa menjadi pilihan yang lebih baik. Pastikan semua investasi dilakukan melalui platform yang legal dan terdaftar di OJK.
Mengubah kebiasaan doom spending bukan berarti kamu harus hidup secara ekstrem atau mengorbankan kesenangan. Dengan perencanaan yang matang, kamu bisa hidup nyaman saat ini sekaligus mempersiapkan masa depan dengan lebih baik. Penting untuk diingat bahwa belanja boleh dilakukan, tetapi jangan sampai hal tersebut menjadi pelarian dari stres. Saatnya untuk mengelola keuangan dengan cara yang lebih sehat dan bijak demi kesejahteraan hari ini dan esok.







