Agung Sedayu Group dan Salim Group sedang aktif dalam menciptakan kawasan hijau berkelanjutan di Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 dengan menanam lebih dari 4.000 pohon trembesi. Ini merupakan langkah awal dari target keseluruhan 80.000 tanaman di area tersebut. Program penghijauan ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon, yang sangat penting dalam memerangi perubahan iklim.
Ade Yusuf Yuliansyah, Direktur Manajemen Lanskap Agung Sedayu Group, menjelaskan bahwa pohon memiliki peran penting dalam ekosistem. “Mereka menghasilkan oksigen, menyerap karbon dioksida dan polutan lainnya, serta menciptakan habitat bagi makhluk hidup,” ungkapnya. Melalui penghijauan ini, diharapkan kawasan PIK 2 tidak hanya menjadi tempat tinggal yang nyaman, tetapi juga memperbaiki kualitas udara dan lingkungan secara keseluruhan.
Trembesi, yang merupakan jenis pohon yang dipilih, dikenal sebagai penyerap karbon yang efisien. Dengan diameter 10–15 cm, satu pohon trembesi dapat menyerap hingga 28,4 ton karbon dan memproduksi 28,6 ton oksigen setiap tahun. “Pohon ini bisa berumur ratusan tahun dan sangat cocok tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia,” tambah Ade. Ini menjadikan trembesi pilihan ideal untuk proyek penghijauan yang ambisius ini.
Pakuan tersebut bukan hanya sekadar pelengkap lanskap, tetapi juga bagian dari investasi jangka panjang untuk menciptakan kota yang ramah lingkungan. Berbeda dengan kawasan perkotaan lainnya yang dipenuhi dengan polusi, PIK 2 berusaha memberikan udara bersih dan ruang terbuka hijau yang mendukung kesehatan fisik dan mental bagi warganya. “Setiap pohon menyimpan harapan untuk masa depan yang lebih hijau dan sehat,” kata Ade.
Selain dampak lingkungan, proyek penghijauan ini juga memiliki dampak ekonomi. PANI, selaku pengelola PIK 2, mencatat kinerja positif di bidang likuiditas. Kas dan setara kas mencapai Rp5,48 triliun pada akhir Maret 2025, hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun keuntungan bersih mengalami penurunan, perusahaan tetap solid secara finansial dan mampu mendukung inisiatif lingkungan.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, PANI mengalami penurunan laba sebesar 59,49% dari Rp122,38 miliar pada kuartal I tahun 2024 menjadi Rp49,57 miliar pada tahun ini. Kontribusi pendapatan sebagian besar berasal dari segmen real estate, yang melemah 4,43% year on year. Namun, pengelolaan biaya yang efisien telah membantu mengurangi beban pokok menjadi Rp267,98 miliar.
Strategi mengembangkan kawasan hijau ini tidak hanya akan memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga meningkatkan daya tarik kawasan tersebut sebagai destinasi hunian. Sedari awal, kebijakan pembangunan yang berkelanjutan ini menunjukkan komitmen PANI dalam mendukung pembangunan yang tidak merusak lingkungan. Mengingat tren global saat ini, investasi ini diharapkan dapat memberikan keuntungan jangka panjang, baik untuk perusahaan maupun masyarakat.
Seiring dengan berkembangnya proyek penghijauan ini, PANI berpotensi besar untuk menyerap jutaan ton karbon, membantu mitigasi perubahan iklim, serta menciptakan ruang bagi berbagai spesies flora dan fauna. Masyarakat di sekitar pun dapat menikmati manfaat lingkungan yang lebih baik, menghasilkan atmosfer yang lebih sehat dan lebih harmonis. Di tengah berbagai tantangan yang ada, inisiatif ini menjadi contoh nyata bagaimana sektor swasta dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan di Indonesia.







