Patriot Bond, obligasi yang diterbitkan oleh BPI Danantara, dikabarkan mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribe meskipun proses pembentukan harga (bookbuilding) masih berlangsung dan pembukaannya masih sekitar satu bulan lagi. Informasi ini disampaikan oleh seorang eksekutif yang mengetahui proses penerbitan obligasi tersebut kepada Bisnis.com pada Selasa, 26 Agustus 2025.
Menurut sumber yang enggan menyebutkan angka pasti, oversubscribe ini sudah terjadi sejak satu bulan terakhir dan menunjukkan tingginya minat investor untuk berpartisipasi dalam penawaran obligasi ini. Patriot Bond menargetkan penggalangan dana sebesar Rp50 triliun atau sekitar US$3,1 miliar, yang akan diterbitkan dalam dua tenor, yaitu 5 tahun dan 7 tahun dengan nilai masing-masing Rp25 triliun. Kupon yang ditawarkan untuk dua seri obligasi ini dipatok sebesar 2%, angka yang relatif lebih rendah dibandingkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 5%, maupun yield Surat Berharga Negara tenor 5 dan 7 tahun yang berada di kisaran 5,8% hingga 6,1%. Mandiri Sekuritas dipercaya sebagai manajer investasi untuk penerbitan obligasi strategis ini.
Dalam pernyataan resminya, Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Patria Sjahrir, menegaskan komitmen Danantara untuk menjalankan mandat sebagai pengelola investasi negara dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan tata kelola yang baik. "Setiap inisiatif pembiayaan diarahkan untuk mendukung transformasi ekonomi jangka panjang serta memperkuat peran dunia usaha dalam pembangunan," ujar Pandu.
Patriot Bond sendiri merupakan instrumen pembiayaan yang telah populer dipakai oleh sejumlah negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat, guna memperkuat kemandirian pembiayaan nasional. Melalui obligasi ini, negara memperoleh sumber dana jangka menengah hingga panjang yang stabil, sementara pelaku usaha mendapatkan akses ke instrumen investasi yang aman dan bermanfaat bagi perekonomian nasional. Prinsip utama dari Patriot Bond adalah partisipasi sukarela dan tanggung jawab bersama, sehingga membuka ruang bagi kelompok usaha nasional berkontribusi dalam agenda pembangunan lintas generasi.
Djarum di Daftar Teratas Penawar Patriot Bond
Selain kabar oversubscribe, terdapat informasi bahwa kelompok usaha Djarum yang dikelola oleh Hartono bersaudara masuk dalam daftar teratas calon pembeli Patriot Bond. Meski belum ada angka pasti mengenai besaran pembelian dari Djarum, sumber Bisnis menyebutkan bahwa nilai partisipasi kelompok ini mencapai triliunan rupiah. Pihak Corporate Communication Djarum Group, Budi Dharmawan, memilih untuk tidak mengkonfirmasi ataupun membantah kabar tersebut dan menyarankan publik untuk menunggu pernyataan resmi dari Danantara.
Strategi Penggalangan Dana Danantara
Penerbitan Patriot Bond menjadi bagian dari strategi Danantara dalam menggalang pendanaan untuk investasi strategis negara. Sebelumnya, sovereign wealth fund (SWF) ini telah berhasil menghimpun dana sekitar US$7 miliar dari dividen BUMN. Selain itu, Danantara juga menerima penawaran fasilitas kredit senilai total US$10 miliar dari enam bank asing, dengan penarikan dana awal sebesar US$3 miliar. Dana ini digunakan untuk membiayai berbagai investasi strategis nasional.
Fasilitas kredit yang melibatkan sejumlah bank asing bergengsi seperti DBS, HSBC, Natixis SA, Standard Chartered, dan United Overseas Bank (UOB) ini akan menjadi salah satu pinjaman terbesar yang disalurkan oleh bank swasta di Asia Tenggara apabila penarikan penuh dilakukan. Fasilitas ini juga menandai pendanaan pertama dari sektor swasta yang berhasil diraih Danantara sejak berdirinya pada Februari 2025.
Salah satu proyek utama yang turut didanai oleh fasilitas kredit ini adalah pembangunan pabrik chlor-alkali dan ethylene dichloride senilai US$800 juta milik PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Investasi ini menunjukkan peran aktif Danantara dalam mendukung pengembangan industri petrokimia nasional yang menjadi sektor vital dalam rantai nilai ekonomi.
Oversubscribe yang dialami Patriot Bond menandakan antusiasme besar dari kalangan konglomerat nasional terhadap instrumen pembiayaan ini. Hal ini sekaligus menjadi indikasi bahwa investor nasional semakin percaya dan bersemangat dalam mendukung pembiayaan pembangunan nasional melalui solusi keuangan yang inovatif dan berkelanjutan. BPI Danantara sebagai pengelola investasi negara terus mengarahkan langkah strategisnya untuk memperkuat perekonomian dengan pendekatan partisipasi luas dan prinsip tata kelola yang baik.
