Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen dalam jangka waktu satu hingga dua tahun bukanlah sesuatu yang sulit bagi Indonesia. Pernyataan optimis ini disampaikan dalam acara Great Lecture: Transformasi Ekonomi Nasional yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Kamis (11/9/2025).
Menurut Purbaya, selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia belum mencapai potensi maksimal karena "mesin ekonomi" nasional berjalan tidak sinkron. Sektor pemerintah dan swasta cenderung bergerak sendiri-sendiri sehingga pertumbuhan yang optimal belum tercapai. Untuk itu, pemerintah akan menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter agar berjalan seiringan, sehingga menciptakan sinergi yang lebih baik dalam menggerakkan roda ekonomi.
Langkah Strategis Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi
Purbaya menjelaskan ada dua langkah utama yang akan diambil untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Pertama, pemerintah akan mengakselerasi belanja negara guna mendorong permintaan domestik. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan stimulus signifikan pada berbagai sektor, khususnya yang paling terdampak pandemi dan krisis global.
Kedua, Menkeu menyampaikan bahwa Bank Indonesia (BI) akan menempatkan dana sebesar Rp 200 triliun ke perbankan. Modal tambahan ini bertujuan memperkuat likuiditas perbankan, sehingga penyaluran kredit kepada sektor riil bisa meningkat. Melalui peningkatan akses pembiayaan, pertumbuhan ekonomi nasional dapat terdorong lebih cepat.
Menurut Purbaya, langkah-langkah ini akan mendorong sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter, yang selama ini berjalan tidak sinkron. Penyelarasan kebijakan diharapkan dapat memaksimalkan efektivitas stimulus dan mempercepat akselerasi pertumbuhan.
Keyakinan Menghadapi Risiko Krisis
Dalam paparannya, Purbaya juga menegaskan bahwa Indonesia saat ini lebih kuat menghadapi potensi krisis ekonomi dibandingkan periode sebelumnya seperti pada tahun 1998, 2008, 2015, dan pada masa pandemi 2020-2021. Stabilitas ekonomi dan ketahanan sistem keuangan Indonesia dinilai sudah teruji lewat berbagai ujian krisis dahsyat tersebut.
Hal ini menjadi dasar optimisme Menkeu bahwa krisis seperti krisis moneter 1998 tidak akan terulang. Dengan fondasi ekonomi yang lebih kokoh dan kebijakan yang tepat, Indonesia diproyeksikan mampu mencapai pertumbuhan positif secara berkelanjutan.
Pondasi dan Target Pertumbuhan Jangka Panjang
Menkeu Purbaya juga menyoroti bahwa pondasi pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat sudah tersedia. Kunci utama terletak pada pengelolaan permintaan domestik secara efektif dan penerapan kebijakan fiskal yang tepat sasaran. Dari sisi produksi, reformasi sektor industri manufaktur turut menjadi fokus penting untuk meningkatkan daya saing nasional.
Purbaya optimistis, dengan reformasi dan perbaikan sektor manufaktur, pertumbuhan ekonomi bisa menembus angka 7 hingga 8 persen. Pernyataan ini sejalan dengan target pertumbuhan 8 persen yang dicanangkan oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto. Meski menilai target tersebut tidak mudah dicapai, Menkeu yakin target itu realistis jika dilakukan dengan kebijakan yang terkoordinasi dan upaya perbaikan struktural.
Harapan ke Depan
Dengan berbagai strategi yang tengah dirancang, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan dalam waktu dekat. Purbaya berharap kebijakan ini dapat menciptakan momentum baru untuk perekonomian Indonesia, sekaligus menjaga ketahanan terhadap berbagai risiko global.
Upaya menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter serta penguatan sektor produktif menjadi langkah krusial bagi Indonesia agar mampu melaju pada jalur pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya saing di era globalisasi yang terus menantang.
Melalui kombinasi kebijakan dan reformasi tersebut, pemerintah optimis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai titik yang diinginkan, sekaligus membangun fondasi kokoh untuk kemakmuran jangka panjang.
