Pabrik baja di Surabaya mengalami tekanan berat akibat melimpahnya produk impor yang masuk ke pasar dalam negeri. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada keberlangsungan usaha pabrik, tetapi juga menimbulkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi ribuan tenaga kerja.
Ketua Umum Indonesian Society of Steel Construction (ISSC), Budi Harta Winata, mengungkapkan bahwa pabrik baja di Surabaya telah tutup dan terdapat juga kabar pabrik di Bekasi yang akan menyusul. "Sudah ada satu pabrikan besar yang tutup sejak 2025, dan yang di Bekasi juga sudah mau tutup katanya," ujarnya di Jakarta, akhir pekan lalu. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya gempuran produk baja impor terhadap industri baja lokal.
Dampak Impor terhadap Industri Baja Lokal
Maraknya impor baja konstruksi terutama dari Vietnam dan China menjadi ancaman utama bagi pelaku industri baja nasional. Produk baja siap pasang tersebut secara langsung mengambil alih peluang bisnis dan rantai pasok yang selama ini dipegang oleh perusahaan-perusahaan dalam negeri. Budi Harta Winata menegaskan bahwa hadirnya produk impor membuat pelaku usaha lokal tidak lagi dapat bagian dalam proses produksi maupun pemasangan baja konstruksi.
Akibatnya, terjadi penurunan permintaan terhadap produk baja domestik yang berdampak negatif pada kelangsungan usaha dan lapangan kerja. "Ketika produk langsung masuk ke Indonesia, maka para pelaku usaha lokal di rantai pasok tidak akan dapat pekerjaan dari semua itu," jelas Budi. Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu gelombang PHK dan melemahkan ekosistem industri baja nasional.
Investasi Asing yang Tidak Berpengaruh Positif
Selain gempuran impor, industri baja dalam negeri juga menghadapi persoalan dari investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang hadir tanpa memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal. Menurut Budi, meski ada suntikan modal dari investor asing, masyarakat dan pelaku industri lokal justru tidak mendapatkan manfaat signifikan.
"Artinya, dengan ada investasi dalam hal ini, kita nggak dapat kerjaan apa-apa juga. Nonton doang aja," kata Budi. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa industri baja nasional bisa mengalami nasib serupa dengan industri tekstil yang dahulu juga runtuh dan kehilangan pangsa pasar domestiknya.
Ancaman Krisis Pekerjaan dan Butuh Intervensi Pemerintah
ISSC mengingatkan pemerintah agar segera mengambil langkah strategis guna menyelamatkan industri baja nasional dari keruntuhan lebih lanjut. Jika tidak, bukan hanya pabrik yang tutup dan pekerja yang dirumahkan, tetapi juga dampak sosial-ekonomi akan sangat luas.
Menurut Budi, multi efek dari kondisi ini sangat besar. Industri baja bukan hanya soal produksi baja saja, melainkan juga melibatkan rantai pasok dan berbagai usaha kecil yang menyokongnya. "Sebelum industri baja seperti industri tekstil, mohon pemerintah segera turun tangan untuk menyelesaikan ini," ujarnya penuh harap.
Fakta Data Terkait Dampak Gempuran Produk Baja Impor
- Sebuah pabrik baja di Surabaya telah tutup per 2025 akibat tekanan pasar.
- Pabrik di Bekasi juga diperkirakan akan berhenti beroperasi.
- Ribuan pekerja harus kehilangan pekerjaan akibat penurunan aktivitas produksi.
- Produk baja impor dari Vietnam dan China menguasai pasar baja konstruksi.
- Investasi asing tidak berhasil meningkatkan lapangan kerja lokal.
Gempuran produk impor baja yang masuk ke dalam negeri tanpa adanya perlindungan industri lokal berpotensi membahayakan ekosistem baja nasional, termasuk produksi dan ketenagakerjaan. Berbagai pihak sepakat bahwa intervensi pemerintah sangat diperlukan agar industri baja dapat bertahan dan berkembang, serta mencegah industri ini mengalami kehancuran seperti yang dialami industri tekstil beberapa waktu lalu.
Pada akhirnya, solusi berkelanjutan mesti dirancang tidak hanya untuk menghambat impor ilegal dan tidak sehat, tetapi juga memperkuat daya saing industri baja domestik melalui inovasi, peningkatan kualitas produk, dan dukungan kebijakan yang tepat. Keberlangsungan industri baja nasional akan memberikan dampak positif bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat secara luas.





