Empat bank jumbo terbesar di Indonesia dari kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV menunjukkan hasil keuangan yang beragam pada semester I tahun 2025. PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) menjadi yang terdepan dengan laba bersih konsolidasi mencapai Rp29 triliun, meningkat 8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Bank Mandiri (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan kinerja yang berbeda, dengan pertumbuhan dan penurunan laba bersih yang signifikan.
BCA Memimpin dengan Laba Bersih Rp29 Triliun
BCA berhasil mempertahankan posisi sebagai bank swasta terbesar di Indonesia dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 8%, dari Rp26,9 triliun pada semester I/2024 menjadi Rp29 triliun pada semester I/2025. Kinerja ini didukung oleh pertumbuhan kredit sebesar 12,9% secara tahunan menjadi Rp959 triliun. Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyampaikan bahwa penyaluran kredit yang meluas di berbagai segmen turut menopang hasil tersebut, khususnya kredit korporasi yang naik 16,1% menjadi Rp451,8 triliun, serta pertumbuhan kredit komersial dan UKM masing-masing sebesar 12,6% dan 11,1%.
Rasio kualitas aset BCA juga membaik, dengan Loan at Risk (LAR) turun menjadi 5,7% dari 6,4% tahun lalu, sementara Non Performing Loan (NPL) tetap terjaga di level 2,2%. Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan tumbuh 5,7% menjadi Rp1.190 triliun, dengan porsi dana murah hingga 82,5%, mencapai Rp982 triliun. Pendapatan bunga bersih BCA naik 7% menjadi Rp42,5 triliun, dan pendapatan non-bunga bertambah 10,6% menjadi Rp13,7 triliun, mencerminkan diversifikasi sumber pendapatan yang sehat.
Bank Mandiri Alami Penurunan Laba, Namun Kredit Tumbuh Signifikan
Bank Mandiri mencatatkan laba bersih Rp24,5 triliun pada semester I/2025, turun 7,7% dari Rp26,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Meskipun laba menurun, pendapatan bunga dan syariah perseroan naik hingga 12,95% menjadi Rp81,58 triliun. Namun, peningkatan beban bunga dan syariah yang mencapai 26,17% dan kenaikan beban operasional, termasuk biaya promosi yang melonjak 249,73%, menjadi faktor yang menekan laba.
Penyaluran kredit Bank Mandiri turut mengalami kenaikan signifikan sebesar 11,33% menjadi Rp1.655,99 triliun pada Juni 2025. DPK juga meningkat 10,75% menjadi Rp1.828,48 triliun, dengan porsi dana murah (CASA) naik 11,31% menjadi Rp1.156,31 triliun. Meski laba menurun, Bank Mandiri menunjukkan kekuatan dalam pengembangan portofolio kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga.
BNI Catat Penurunan Laba 5,58% dengan Kualitas Aset yang Tetap Membaik
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI mencatatkan laba bersih Rp10,09 triliun, turun 5,58% dari Rp10,69 triliun pada semester I/2024. Pendapatan bunga bersih sedikit meningkat sebesar 2,33% menjadi Rp19,51 triliun, tetapi pendapatan komisi dan pendapatan lainnya mengalami penurunan. Beban pencadangan naik hampir 10%, yang menyebabkan tekanan terhadap laba bersih.
Dari sisi fungsi intermediasi, BNI berhasil meningkatkan penyaluran kredit sebesar 7,11% menjadi Rp778,68 triliun. Aset juga tumbuh 12,05% menjadi Rp1.201,65 triliun. Rasio NPL gross membaik menjadi 1,95% dan NPL net mengalami kenaikan tipis menjadi 0,69%, menandakan perbaikan kualitas aset yang relatif stabil walaupun ada beberapa tekanan di area pendapatan.
BRI Turun 11,53%, Namun Kredit UMKM Masih Jadi Andalan
Bank Rakyat Indonesia (BRI) membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp26,28 triliun, turun 11,53% dibandingkan Rp29,7 triliun pada semester I/2024. Pendapatan bunga bersih BRI naik 2,8% menjadi Rp73,27 triliun, namun beban pencadangan dan kerugian risiko operasional yang meningkat signifikan memengaruhi penurunan laba.
BRI mencatat pertumbuhan kredit 5,97% menjadi Rp1.416,62 triliun dengan porsi kredit UMKM mendominasi sebesar 80,32% dari total portofolio, mencapai Rp1.137,84 triliun. Aset bank pelat merah ini juga tumbuh 6,52% menjadi Rp2.106,37 triliun, yang mencerminkan peran BRI sebagai penggerak utama dalam pembiayaan segmen usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia.
Perbandingan Kinerja dan Tantangan Bank Jumbo
Berdasarkan data semester I/2025, BCA unggul dalam hal pertumbuhan laba bersih dan efisiensi dengan rasio cost to income terendah di 29,1%, sekaligus menjaga kualitas aset yang ketat. Bank Mandiri memiliki portofolio terbesar dalam penyaluran kredit, tetapi menghadapi peningkatan beban operasional yang signifikan. BNI menunjukkan stabilitas dengan perbaikan kualitas aset, sementara BRI masih menjadi juara dalam segmen UMKM meskipun laba mengalami tekanan.
Secara keseluruhan, dinamika kinerja empat bank jumbo ini menggambarkan tren pemulihan dan persaingan yang ketat di industri perbankan Indonesia. Berbagai strategi ekspansi kredit dan pengelolaan biaya menjadi kunci utama bagi bank-bank tersebut untuk mempertahankan pertumbuhan dan menghadapi tantangan makroekonomi di paruh kedua 2025.





