
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) tengah mempersiapkan pengembangan signifikan terhadap entitas usahanya, PT Bank Syariah Nasional (BSN). Rencana strategis BTN ini mencakup suntikan modal hingga ekspansi ke bisnis bank bulion atau emas, dengan target menjadikan BSN sebagai bank syariah kedua terbesar di Indonesia dalam lima tahun mendatang.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengungkapkan optimisme perusahaan dalam menggenjot pertumbuhan BSN agar memiliki aset mendekati Rp200 triliun pada tahun 2030. Target ini diharapkan dapat menempatkan BSN bersaing langsung dengan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), yang saat ini memegang posisi terbesar di segmen perbankan syariah Tanah Air.
Menurut Nixon, pengembangan perbankan syariah di Indonesia memiliki prospek yang sangat cerah. Saat ini, sekitar 20% masyarakat Indonesia menunjukkan preferensi besar terhadap layanan keuangan berbasis syariah. Dengan lepasnya BSN dari BTN melalui proses spin-off, institusi ini dapat menargetkan segmen nasabah baru yang masih potensial dan belum tergarap sepenuhnya.
Untuk memperkuat ekosistem perbankan syariah nasional, Nixon menekankan pentingnya keberadaan minimal tiga hingga empat bank syariah berukuran besar yang kompetitif. Hal ini bertujuan menjaga persaingan sehat sebagai pendorong layanan lebih optimal kepada masyarakat.
Spin-Off dan Modalisasi BSN
Proses pemisahan unit usaha syariah BTN menjadi entitas mandiri bernama BSN dijadwalkan berlangsung pada 19 November 2025 melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). BTN berkomitmen melakukan injeksi modal guna memperkuat rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) BSN yang ideal di kisaran 18-20%.
Untuk mencapai target CAR tersebut, BSN membutuhkan modal inti sekitar Rp6,5 triliun. Rinciannya terdiri dari modal inti BSN sebesar Rp1,6 triliun, modal unit usaha syariah BTN sekitar Rp4 triliun, dan tambahan sekitar Rp1 triliun yang akan disetorkan oleh BTN sebagai induk perusahaan.
Per Januari hingga Juni 2025, unit usaha syariah BTN menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Total aset tumbuh 18% secara tahunan menjadi Rp66 triliun, pembiayaan naik 17% menjadi Rp48 triliun, dan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 19,8% menjadi Rp55 triliun. Profitabilitas juga mengalami peningkatan 8,3% dengan laba Rp401 miliar, dan diharapkan laba bersih sepanjang tahun 2025 dapat menyentuh Rp900 miliar.
Pengembangan Layanan Digital dan Bisnis Emas
Direktur Utama BSN, Alex Sofjan Noor, menyatakan bahwa pihaknya sedang mengembangkan aplikasi mobile banking berbasis syariah yang direncanakan diluncurkan pada Desember 2025. Aplikasi ini diharapkan dapat mendukung transaksi perbankan syariah yang seamless dan memperluas akses pasar.
Selain layanan perbankan tradisional syariah, BSN juga akan menggarap segmen bulion bank, yang meliputi produk cicilan emas, tabungan emas, dan gadai emas. Produk ini bertujuan memenuhi kebutuhan nasabah yang menginginkan alternatif layanan keuangan syariah yang tidak tersedia di bank konvensional.
Menurut Alex, inovasi di bidang bulion bank akan memberikan keunggulan kompetitif sekaligus menambah nilai tambah bagi nasabah syariah. Layanan seperti gadai dan tabungan emas yang berbasis syariah diyakini akan mengisi ceruk pasar yang cukup besar, mengingat tren investasi emas yang terus meningkat.
Proyeksi Keuangan dan IPO BSN
Alex juga optimistis terhadap dampak penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) terhadap peningkatan kualitas pembiayaan BSN. Hal ini akan menjaga margin bunga bersih (NIM) dan mendukung pencapaian target laba Rp900 miliar tahun 2025.
Sementara itu, terkait rencana penawaran umum perdana saham (IPO) BSN di Bursa Efek Indonesia, BTN memilih untuk menunda keputusan tersebut dan akan memantau kinerja BSN selama 2-3 tahun ke depan sebelum mengambil langkah IPO.
Dengan strategi pengembangan yang komprehensif ini, BTN dan BSN berupaya memperkuat posisi mereka dalam industri perbankan syariah sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat terhadap layanan keuangan berbasis prinsip syariah dan produk inovatif seperti bulion bank. Ke depannya, transformasi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan mendukung inklusi keuangan di Indonesia.





